Wednesday, November 17, 2010
Monday, November 1, 2010
File .pdf
Siapapun pengguna komputer mungkin tahu kepanjangan PDF (kecuali diriQ mungkin) : Portable Document Format.
Adobe boleh disebut PIONER sebagai produsen PDF Reader dengan nama dagang : Acrobat Reader.
Pada mulanya (sekitar th 1990) seorang bernama John Warnock, salah satu founder Adobe menanggapi serius ide tentang PAPERLESS OFFICE, karena ditenggarai dengan perkembangan teknologi komputer membuat pemakaian kertas meningkat dengan tajam. Kekhawatiran penggunaan kertas yg tak terkendali akan mengancam PUNAHNYA HUTAN di dunia ini, maklum sampai hari ini bubur kayu atau dikenal dengan pulp masih menjadi bahan utama pembuatan kertas. John Warnock, menyuguhkan ide tentang penampakan (display) dokumen lengkap dengan gambar di layar komputer dan sangat ringan untuk ditransport menggunakan e-mail. Maka muncullah PDF, sebagai pilihan. PDF boleh dikatakan format file paling universal hampir seimbang dengan HTML.
Sejak itulah Adobe menjadi organisasi terkemuka dalam 'mencipta' dokumen PDF dan tentu saja READER-nya laris manis, bahkan digratiskan. Tapi perangkat pembuat PDF-nya (PDF Producer, Distiller, Printer) TIDAK GRATIS. Artinya kalau mau bikin bayar, kalau cuma liat GRATIS !
FOXIT atau XPDF atau banyak reader lain kini disediakan distro. OOo mengimplant PDF Printer untuk mengubah OOo dokumen ke format PDF tapi filenya GEDE banget yak; gak ada PDF Optimisernya hahahaha (windows banget). Pilihan lain adalah CUPS-PDF, PDF Printer yg handal dan hasilnya memuaskan (ukuran filenya kecil).
Virtual Drive
Gara-gara pertanyaan dari kakak kelaasQ waktu SMA Q jadi belajar sama om google. Malu dunk kalo nggak bisa jawab. S.Kom tapi KOM nya Komedi wkwkwkwk. Dan ternyata masih banyak teknologi imformasi yang belom Q ketahui .
Apa itu virtual CD/DVD?
virtual CD/DVD? adalah semacam drive CD/DVD maya, yang mana komputer akan membacanya sebagai CD/DVD ROM, padahal drive CD/DVD tersebut tidak ada, Lalu apa kegunaan dari virtual CD/DVD?
Pernahkah Anda memainkan sebuah game, dimana setiap kali anda bermain game (contohnya Need For Speed, dan Rubrik (yang di tanyakan kakak kelasQ itu)), Anda diminta untuk memasukkan CD/DVDnya ? kalo blom pernah,, Silahkan dicoba memainkan Game seperti Need For Speed,, kalo udah pernah,, silahkan lanjut bacanya... :-)
Untuk mengakalinnya biasanya kita mendownload cracknya dari internet, tapi kadangkala kita kesulitan untuk mencari cracknya di internet, juga beberapa game membaca image cd sebagai validasi untuk menggunakannya.. Nah, untuk itulan kita membuat virtual CD/DVD? ini....
Cara membuatnya cukup mudah,,
Banyak software untuk membuat virtual CD/DVD? contohnya Virtual Daemon, alcohol 120%, CD/DVD virtual, tapi kali ini saya akan membahas Virtual Daemon , karena cukup mudah digunakan.
- Download dulu program virtual CDnya di http://www.ziddu.com/download/4964538/daemon4112-lite.zip.html, atau cari di Om Google,
- Dan program untuk membuat CD imagenya, CD image berformat .iso,.nrg,.bt5, dan masih banyak lagi, download di http://www.ziddu.com/download/4964539/MagicISO_5.4.0247.zip.html atau cari di Om google juga bisa. lalu copy file yang ada di dalam CD lalu buat filenya menjadi format image CD, contohnya file.ISO .
- Semua dah pada tau kan nginstall software,, kalo belum tau next-next kan saja,,
- Setelah terinstall, jalankan program Virtual Daemonnya,,
- Setelah itu akan muncul icon di taskbar seperti ini,,
virtual CD
Pilih salah satu device, contohnya device 0 : F, maka akan muncul windows baru untuk mencari file image CD, lalu pilih image CD yang anda buat tadi contohnya file.ISO,,
tunggu beberapa saat, Sekarang coba lihat di Explorer, apakah sudah terbentuk CD drive baru,,
Anda juga bisa mengatur berapa jumlah drive CD/DVD yang ingin dibuat, maksimal 4 dengan mengklik kanan pada iconnya yang di taskbar tadi, Kemudian pilih Virtual CD/DVD-ROM >> Set Number of Devices >> Pilih berapa drive yang anda inginkan
Select Devices
Hmm.... Sekarang anda bisa bermain game sepuasnya tanpa harus ribet-ribet masukkan CD segala. Sekian dulu ya..
Semoga bermanfaat..
Sunday, October 31, 2010
Sharing Printer
Pemakaian printer yang di beberapa warnet yang punya puluhan klien sudah cukup ditangani oleh 2 sampe 3 printer. Sebuah divisi dalam sebuah perusahaan yang punya 10 komputer dalam satu ruangan, cukup memiliki maksimal 4 printer saja, kecuali perusahaan percetakan yang kerjanya cetak-mencetak dengan frekuensi yang tinggi. Intinya kalo ngomong soal usaha, biaya produksi bisa dikurangi hanya dengan mengurangi printer. Belum lagi faktor cartridge yang harganya hampir sama dengan harga printer itu sendiri… alamak!!!
Model pemakaian satu printer untuk beberapa user ini sering dikenal dengan Printer Sharing. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat beberapa komputer berbagi satu printer. Mulai dari model jaringan LAN, switch printer, bahkan manual switch alias colokin ke komputer jika perlu saja.
Dalam ulasan kali ini saya akan memaparkan langkah-demi-langkah setting printer agar dapat dipakai oleh beberapa komputer dengan memanfaatkan fasilitas File and Printer Sharing punya Windows. Mungkin bagi sebagian dari Anda tulisan ini sudah tidak relevan lagi, tapi tidak mengapa. Saya sengaja memuat kembali tulisan ini untuk menyediakan referensi bagi rekan yang masih membutuhkan. Terlebih lagi cara ini bisa sangat menghemat penggunaan printer terutama untuk Lab, kantor, rental dan Warnet.
Sebelum memulai langkah berikut saya asumsikan Anda telah menyiapkan jaringan LAN Anda. Masing-masing komputer sudah memiliki IP addres yang tepat dan tergabung daam sebuah workgroup. Di sini saya pakai nama default “WORKGROUP” untuk nama network yang saya gunakan.
Jika Anda masih tertarik untuk menyimak langkah pemilihan kabel dan cara membuat krimping kabel UTP untuk jaringan, silakan klik di sini. Soal topologi jaringan, silakan Anda pilih sendiri sesuai keperluan Anda.
Pada proses printer sharing ini ada dua tahap yang perlu dilakukan sebagai berikut:
Selanjutnya lakukan langkah berikut:
- Buka Control Panel > Printer and Faxes, klik kanan pada Printer Anda > Pilih Sharing. Dalam contoh ini saya pakai printer HP Deskjet 2200 Series.
- Selanjutnya akan muncul Tab Sharing Properties, pastikan Anda memilih Checkbox Share this printer, Beri nama sesuka Anda dan akhiri dengan klik OK. Jika ada permintaan CD Windows, atau konfirmasi dari printer sharing, pilih “Just Enable File and Printer Sharing” dan Klik OK.
Sampai di sini setting komputer host sudah selesai.
Selanjutnya Tahap kedua, yakni Setting Printer di komputer klien. Berikut langkah-langkahnya:
- Buka Control Panel > Printer and Faxes > Pada tab di sebelah kiri pilih Add a Printer.
- Selanjutnya akan terbuka Add Printer Wizard, Klik Next
- Pilih tipe printer yang akan digunakan, pastikan Anda memilih Network Printer > Next
- Browse printer pada jaringan Anda, pastikan Anda tidak salah alamat
akhiri dengan Next
- Komputer akan mengkonfirmasi apakah Printer Jaringan ini akan dijadikan Printer Utama? Pilih sesuai kebutuhan. Saya menyarankan Anda pilih Yes > Next
- Akhiri Wizard dengan klik Finish.
That’s it. Anda sudah berhasil mengkoneksikan komputer klien ke printer jaringan. Berikutnya, silakan Anda print sebuah dokumen dari komputer klien menggunakan printer yang baru saja Anda setting. Semoga berhasil!
Baca selengkapnya di: http://guntingbatukertas.com/sistem-operasi/windows/panduan-sharing-printer-di-jaringan/#ixzz13wdJsoXz
Under Creative Commons License: Attribution No Derivatives
Wednesday, October 27, 2010
Skizofrenia
Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negative seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk.
Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sangat mirip di seluruh dunia. Skizofrenia terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Gejala-gejala awal biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dua puluhan. Pria sering mengalami awitan yang lebih awal daripada wanita.
Faktor resiko penyakit ini termasuk :
1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga
2. Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri, dan/atau impulsivitas.
3. Stress lingkungan
4. Kelahiran pada musim dingin. Faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangat kecil.
5. Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karena dideritanya gangguan ini
Penelitian Computed Tomography (CT) otak dan penelitian post mortem mengungkapkan perbedaan-perbedaan otak penderita skizofrenia dari otak normal walau pun belum ditemukan pola yang konsisten. Penelitian aliran darah, glukografi, dan Brain Electrical Activity Mapping (BEAM) mengungkapkan turunnya aktivitas lobus frontal pada beberapa individu penderita skizofrenia. Status hiperdopaminergik yang khas untuk traktus mesolimbik (area tegmentalis ventralis di otak tengah ke berbagai struktur limbic) menjadi penjelasan patofisiologis yang paling luas diterima untuk skizofrenia.
Semua tanda dan gejala skizofrenia telah ditemukan pada orang-orang bukan penderita skizofrenia akibat lesi system syaraf pusat atau akibat gangguan fisik lainnya. Gejala dan tanda psikotik tidak satu pun khas pada semua penderita skizofrenia. Hal ini menyebabkan sulitnya menegakkan diagnosis pasti untuk gangguan skizofrenia.
Keputusan klinis diambil berdasarkan sebagian pada :
1. Tanda dan gejala yang ada
2. Riwayat psikiatri
3. Setelah menyingkirkan semua etiologi organic yang nyata seperti keracunan dan putus obat akut.
Terapi Penyakit Skizofrenia
Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini terkontraindikasi, karena 75% penderita skizofrenia memperoleh perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin, molindone, dan thioridazine pada penderita dengan hipertrofi prostate atau glaucoma sudut tertutup. Antara sepertiga hingga separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium. Namun, karena lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya disarankan sebatas obat penopang. Meskipun terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah disbanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini pada regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita skizofrenia.
Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini dilakukan dengan menurunkan stressor lingkungan atau mempertinggi kemampuan penderita untuk mengatasinya, dan adanya dukungan sosial. Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita. Intervensi berpusat pada keluarga hendaknya tidak diupayakan untuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-perasaan, atau mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi bawah sadar.
Tujuannya adalah :
1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia.
2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu penderita memandang bahwa skizofrenia adalah gangguan otak.
3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang tidak berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.
4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps.
5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.
Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini malahan memperlambat kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila dipusatkan pada penatalaksanaan stress atau mempertinggi kemampuan social spesifik, serta bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik yang ditandai dengan empati, rasa hormat positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis terhadap kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan demoralisasinya amat penting dilakukan.
Prognosis Penyakit Skizofrenia
Fase residual sering mengikuti remisi gejala psikotik yang tampil penuh, terutama selama tahun-tahun awal gangguan ini. Gejala dan tanda selama fase ini mirip dengan gejala dan tanda pada fase prodromal; gejala-gejala psikotik ringan menetap pada sekitar separuh penderita. Penyembuhan total yang berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun terjadi pada 10% pasien, sedangkan perbaikan yang bermakna terjadi pada sekitar dua per tiga kasus.
Banyak penderita skizofrenia mengalami eksaserbasi intermitten, terutama sebagai respon terhadap situasi lingkungan yang penuh stress. Pria biasanya mengalami perjalanan gangguan yang lebih berat dibanding wanita. Sepuluh persen penderita skizofrenia meninggal karena bunuh diri.
Prognosis baik berhubungan dengan tidak adanya gangguan perilaku prodromal, pencetus lingkungan yang jelas, awitan mendadak, awitan pada usia pertengahan, adanya konfusi, riwayat untuk gangguan afek, dan system dukungan yang tidak kritis dan tidak terlalu intrusive. Skizofrenia Tipe I tidak selalu mempunyai prognosis yang lebih baik disbanding Skizofrenia Tipe II. Sekitar 70% penderita skizofrenia yang berada dalam remisi mengalami relaps dalam satu tahun. Untuk itu, terapi selamanya diwajibkan pada kebanyakan kasus.
