Thursday, January 30, 2014
Filosofi BURUNG MERPATI
1. Merpati adalah burung yg tidak pernah mendua hati.
Coba perhatikan, apakah ada merpati yang suka berganti pasangan ?
Jawabannya adalah : TIDAK Pasangannya cukup satu seumur hidupnya.
2. Merpati adalah burung yg tahu ke mana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain ?
Jawabannya adalah : TIDAK
3. Merpati adalah burung yg romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci ?
Jawabannya adalah : TIDAK
4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan & betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya ?
Jawabannya adalah : TIDAK
5. Merpati adalah burung yg tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “KEPAHITAN” sehingga tidak menyimpan "DENDAM"
Subhanallah.... jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa manusia tidak bisa ?
Hidup itu indah jika kita saling MENGERTI, BERBAGI, dan MENGHARGAI
Saturday, September 21, 2013
Mengapa Anak TK tak boleh di ajari Calistung ?
Mayoritas orang Indonesia itu tidak memahami perkembangan otak anak,
hal itu mengakibatkan para ortu salah mengasuh dan para guru salah
mendidik. Dan apa akibatnya dari salah-salah itu?
Kita bisa lihat orang tua yang seharusnya sudah dewasa bertingkah spt seperti. Banyak. Contoh gampangnya anggota DPR kita Yang Trehormat. Tingkahnya persis
anak TK. Kerja nggak bener tapi minta imbalan lebih, nggak dikasih ma
rakyat malah ngelunjak.
Contoh ke-2, kita lebih banyak mencetak insan2 bermental pegawai
bukan visioner, bukan pakar/ahli dibidang masing2, bukan orang2 yang
bermental pengusaha pembuka lowongan kerja. Rakyat Indonesia tidak suka
mengambil resiko kegagalan, pilih jd pegawai karena tenang mendapat gaji
bulanan tapi ketika di PHK kelabakan nggak punya keterampilan.
Contoh ke-3, kita terbiasa mengapresiasi rangking teratas (5/10
besar), nilai sempurna (80-100) kita jarang mengapresiasi kerja keras
mereka dalam belajar. Padahal ada anak yang sudah belajar mati-matian tapi
mereka tetep ndak dapat nilai bagus ndak dapet rangking karena kemampuan mereka
tidak sama dan bakat mereka pun beda-beda. Akibatnya? ketika UN sekolah
melakukan kecurangan diamini oleh ortu (sudah sering terjadi bukan?)
Kalau anak-anak
kita terbiasa dihargai kerja kerasnya bukan angka atau nilainya semata,
mereka pasti menolak disuruh curang, karena mereka PD dengan hasil usaha
belajarnya sendiri, tapi nyatanya…..??? buanyakkk anak2 itu yang melaksanakan
perintah memalukan itu. Dan kita sekarang pun memiliki pahlawan cilik
kejujuran segala.
Para ahli otak di dunia termasuk di Indonesia semacam Indonesian
Neuroscience Society sudah lama melakukan penelitian bahwa: otak anak-anak itu
belum berkembang sempurna (matang) hingga dia berusia 20-25th! Setelah
sempurna baru mereka dianggap yang namanya “Dewasa”. Bayangkan!
Otak kita dibagi 3: batang otak (diatas leher), limbik (kepala bg
belakang), dan pre frontal cortex/PFC (kepala bag depan/di jidat).
Perkembangan ketiganya itu pun sesuai dengsn urutan diatas. Jadi PFC itulah
yg terakhir berkembang dengan sempurna dan yang menandakan seseorang menjadi
dewasa.
Kita pasti sdh familiar dengan kisah Rosulallah yang ketika mengimami
sholat beliau sujudnya lamaaaa sekali. Lalu para sahabat bertanya:
“kenapa lama? apakah Rosulallah sedang menerima wahyu dari Allah SWT?”
Rosul menjawab :”tidak, cucuku tadi menaiki punggungku”. Jadi beliau
menunggu sampai cucunya turun dari punggungnya. Beliau tidak memberi isyarat pada cucunya untuk turun. Tak seperti kita, kalau kita paling dicubit itu anak
hahaha.. benar bukan?
Apa yg kita petik dari kisah diatas? Rosul lebih
mementingkan/mendahulukan cucunya yg sedang bermain2 ketimbang
ibadahnya! Subhanallah…! Dan apa hubungan kisah diatas dengan perkembangan otak?
Sambungan otak anak-anak itu belum sempurna, otak mereka baru siap
menerima hal-hal kognitif pada usia 7-8 th. Sebelum usia itu, dunia mereka
yang pantas adalah hanya bermain, bermain dan bermain. Dan mereka PUN
tidak boleh DIMARAHI. Allahuakbar! Sebelum ada ahli otak yang meneliti,
Rosulallah sudah menerapkan hal itu pada cucunya! Lalu apa akibatnya kalau masa-masa usia bermain mereka direnggut untuk
belajar hal-hal yang kognitif? –> Dewasanya kelak mereka bertingkah seperti
anak kecil: suka mengurung burung demi kesenangannya sendiri, sakit-sakitan
karena ingin diperhatikan orang-orang sekitarnya, seperti anggota DPR yang saya
tuliskan di atas, korupsi demi kepentingan diri
sendiri/keluarga/golongan dan tidak merasa bersalah malah ngeles terus di
pengadilan, dan sikap kekanak2an lainnya.
Kalau kita ingin membuktikannya, ada ciri-ciri yang mudah kita lihat
bahwa perkembangan otak anak-anak belum siap untuk menerima hal2 kognitif :
(1) ketika kita membacakannya sebuah cerita/dongeng mereka akan
meminta kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Kita yang tua sampai bosen
tapi dia tak pernah bosen mendengar cerita kesukaannya itu diulang-ulang
berkali-kali berhari-hari.
(2) mereka yang antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yang mereka baca.
(2) mereka yang antusias belajar membaca lalu bisa, tapi mereka tidak paham dengan apa yang mereka baca.
Silahkan dipraktikkan.
Kalau mereka hari ini minta dibacakan cerita A besok minta cerita B
besoknya lagi C esok lagi D dan kalau mereka sudah paham dengan apa yang
dibacakan, artinya otak mereka sudah siap menerima hal2 yang kognitif.
Lalu apa yg seharusnya kita ajarkan pada mereka (0-7/8 th)?
1. JANGAN DIMARAHI
2. TIDAK DIAJARKAN MEMBACA, MENULIS, MENGHITUNG.
3. Bermain role play; memahami bahasa tubuh, suara dan wajah; berbagi
hal yang memberikan pengalaman emosional, field trip, mendengarkan musik,
mendengarkan dongeng,
4. Bahkan, anak usia 0-12 th pengasuhan dan pendidikannya ditujukan untuk membangun emosi yang tepat, empati, (mood & feeling)
Jadi, aturan pemerintah tentang usia masuk SD harus minimal 7 th itu bukan tanpa alasan.
Tentu boleh-boleh saja menyelipkan angka dan huruf, tapi tidak belajar membaca dan menulis dan menghitung. Mudah nangkep & ingatannya tajam atau tidak bukanlah ukurannya.
Bagaimana dengan tidak mengajarkan anak calistung diusia emas
diartikan kita memanjakan anak? wong dia belum bisa mikir itu sudah
waktunya dipelajari atau belum
Usia emas itu jualannya susu Formula Pak..
Usia emas semestinya kita artikan sebagai masa-masa tumbuh kembang anak yang
paling pas untuk kita tanamkan budi pekerti dan akhlak yg mulia.
Slogan TK: bermain sambil belajar, belajar seraya bemain JANGAN diartikan dengan BELAJAR calistung.
Para peneliti otak diseluruh dunia sepakat bahwa PFC seorang anak
belum siap untuk dijejalkan hal-hal yang kognitif. Apa akibat dari pemaksaan
terhadap hal-hal kognitif?
- membuat anak tidak mampu menunjukkan emosi yang tepat.
- kendali emosi (intra personalnya terganggu)
- sulit menunjukkan empati.
Sudah banyak ortu yang mengeluhkan: anak-anaknya ketika masih usia dini
sangat antuasias belajar CALISTUNG lalu ortunya merespon dengan
memberikan porsi lebih banyak entah mengajari sendiri secara intensif
atau memasukkannya ke les-les calistung daaannnn ujung-ujungnya datang pada satu
masa anak-anak itu bosan lalu akhirnya mogok belajar mogok sekolah. mereka
menjadi malas. Itu terjadi karena otaknya yang terforsir sudah kelelahan.
Bahkan ada yang saat mau ujian malahan blank, nggak bisa mikir sama
sekali.
Tenang, Pak… kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang
anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk
bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan
serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang
lebih baik. Ini sudah terbukti.
Disadur dari Tulisan Yani Widianto, http://yani.widianto.com/2012/03/13/mengapa-anak-tk-tak-boleh-diajari-calistung/
Monday, May 13, 2013
~✿~ Pertimbangkan Sebelum Tanda Tangan Kontrak ~✿~
Bagi mereka yang baru lulus dari universitas, dunia kerja boleh jadi
merupakan babak awal di mana hidup seolah-olah memasuki “dunia nyata”. Oleh
karenanya, sungguh penting bagi para lulusan yang sedang mendapatkan
pekerjaan pertama untuk memperhatikan banyak hal sebelum menandatangani
kontrak alias menerima pekerjaan itu.
Saran untuk membuat pertimbangan masak-masak sebelum meneken kontrak
tentu tidak hanya berlaku bagi lulusan baru yang pertama kali memasuki
dunia kerja. Bagi mereka yang mendapat tawaran kerja baru dari
perusahaan lain, atau pindah ke tempat kerja baru untuk memulai karir
yang baru, tetap penting untuk memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Pertimbangkan harapan-harapan yang realistik terhadap gaji. Jika ini
kontrak kerja pertama Anda, maka sebaiknya Anda sudah punya gambaran
mengenai gaji lulusan baru untuk industri yang bersangkutan, sehingga
permintaan Anda sesuai proporsi. Jika kasusnya adalah Anda sedang pindah
kerja untuk memulai karir baru, jangan serta-merta berasumsi bahwa Anda
“berhak” atas gaji yang berlipat-lipat. Kembalikan ke tujuan utama Anda
pindah kerja, di samping juga pertimbangkan kondisi perusahaan
2. Perhatikan paket-paket benefit yang ditawarkan. Ingat bahwa gaji
Anda hanyalah salah satu komponen dari sebuah paket yang disediakan
perusahaan. Jangan sungkan untuk menanyakan, apa saja benefit lain yang
ditawarkan, dan bandingkan lebih baik mana dengan yang Anda terima di
perusahaan sebelumnya.
3. Ingatlah sejak awal bahwa kepuasan kerja merupakan sesuatu yang lebih
penting dibandingkan dengan berapa rupiah yang bisa Anda bawa pulang.
Ini sering dilupakan oleh para pencari kerja pertama maupun mereka yang
pindah kerja. Berapa pun gaji dan bonus yang Anda terima, kalau Anda
membenci pekerjaan Anda, maka Anda tidak akan bahagia.
4. Ambilah keputusan berdasarkan situasi dan kondisi yang “nyata”, dan
bukan berdasar “bagaimana seandainya”. Jangan khawatir apa yang akan
terjadi jika semua itu menuntur ke jalan sukses bagi pekerjaan baru
Anda. Yang penting, apa yang bisa Anda lakukan sekarang.
5. Ingatlah bahwa mencari pekerjaan adalah (bagian dari) keseluruhan
pekerjaan itu sendiri. Jika Anda sedang ingin melakukan perubahan, Anda
perlu sebuah pendekatan yang melihat perubahan itu seperti sebuah proyek
pekerjaan. Rencanakan segala sesuatunya agar berjalan sesuai keinginan.
Monday, April 15, 2013
MATIKAN HP DI DALAM PESAWAT!!
-- Katanya High-Class, Tapi .....
Saya sedih mendengar
terbakarnya pesawat Garuda, GA 200 pada tanggal 7 Maret 2007, pukul 07.00 pagi,
jurusan Jakarta-Yogyaka rta di Bandara Adisucipto. Kejadian itu sungguh
menyayat hati dan perasaan.
Kemudian saya
teringat beberapa bulan yang lalu terbang ke Batam dengan menggunakan pesawat
Garuda juga. Di dalam pesawat duduk disamping saya seorang warga Jerman. Pada
saat itu dia merasa sangat gusar dan terlihat marah, karena tiba-tiba mendengar
suara handphone tanda sms masuk dari salah satu penumpang, dimana pada saat itu
pesawat dalam posisi mau mendarat. Orang ini terlihat ingin menegur tetapi
tidak berdaya karena bukan merupakan tugasnya
Langsung saya tanya
kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti itu, kemudian dia bercerita bahwa dia
adalah manager salah satu perusahaan industri, dimana dia adalah supervisor
khusus mesin turbin. Saat dia melaksanakan tugasnya tiba-tiba mesin turbin
mati, setelah diselidiki ternyata ada salah satu petugas sedang menggunaka HP
didalam ruangan mesin turbin.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Orang Jerman ini menjelaskan bahwa apabila frekwensi HP dengan mesin turbin ini kebetulan sama dan sinergi ini akan berakibat mengganggu jalannya turbin tersebut, lebih fatal lagi berakibat turbin bisa langsung mati.
Cerita ini langsung
saya kaitkan dengan peristiwa diatas, kalau saya tidak salah mendengar mesin
pesawat tiba-tiba mati pada saat mau mendarat. Mudah- mudan peristiwa ini bukan
akibat HP penumpang. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk masyarakat yang sering
bepergian dengan pesawat.(KOMPAS )
Rakyat kita ini
memang High class.. Handphone nya Mahal, Transportasi pake pesawat. Tapi
bodohnya gk ketulungan. Ada yang gk tau kenapa larangan itu dibuat, ada yang
tau tapi tetap gk peduli.. Orang indonesia harus selalu belajar dengan cara
yang keras. Buat yang belum tahu, kenapa gak boleh menyalakan
Handphone di pesawat, berikut penjelasannya:
Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru "take-off" dari Lanud Polonia - Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui dengan pasti.
Sekedar untuk informasi saja, mungkin rekan-rekan semua sudah mendengar berita mengenai kecelakaan pesawat yang baru "take-off" dari Lanud Polonia - Medan. Sampai saat ini penyebab kejadian tersebut belum diketahui dengan pasti.
Mungkin sekedar
sharing saja buat kita semua yang memiliki dan menggunakan ponsel/telpon
genggam atau apapun istilahnya.. Ternyata menurut sumber informasi yang didapat
dari ASRS (Aviation Safety Reporting System) bahwa ponsel mempunyai kontributor
yang besar terhadap keselamatan penerbangan. Sudah banyak kasus kecelakaan
pesawat terbang yang terjadi akibatkan oleh ponsel. Mungkin informasi dibawah ini
dapat bermanfaat untuk kita semua, terlebih yang sering menggunakan pesawat
terbang.
Contoh kasusnya
antara lain:
- Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX498 baru saja "take-off" dari bandara Zurich, Swiss. Sebentar kemudian pesawat menukik jatuh. Sepuluh penumpangnya tewas. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat.
- Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm di kokpit penerbang terus meraung-raung. Ternyata, sebuah ponsel di dalam kopor dibagasi lupa dimatikan, dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi.
- Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi setinggi 700 kaki justru ketika sedang "final approach" untuk "landing" di bandara Heathrow, London. Penyebabnya adalah karena tiga penumpang belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game masing-masing (The Australian, 23-9-1998).
Seperti kita tahu di Indonesia? Begitu roda-roda
pesawat menjejak landasan, langsung saja terdengar bunyi beberapa ponsel yang
baru saja diaktifkan. Para "pelanggar
hukum" itu seolah-olah tak mengerti, bahwa perbuatan mereka dapat
mencelakai penumpang lain, disamping merupakan gangguan (nuisance) terhadap
kenyamanan orang lain.
Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang Belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.
Dapat dimaklumi, mereka pada umumnya memang Belum memahami tatakrama menggunakan ponsel, disamping juga belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan ponsel dan alat elektronik lainnya terhadap sistem navigasi dan kemudi pesawat terbang. Untuk itulah ponsel harus dimatikan, tidak hanya di-switch agar tidak berdering selama berada di dalam pesawat.
Berikut merupakan
bentuk ganguan-gangguan yang terjadi di pesawat: Arah terbang melenceng,
Indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) terganggu, Gangguan penyebab VOR
(VHF Omnidirectional Receiver) tak terdengar, Gangguan sistem navigasi,
Gangguan frekuensi komunikasi, Gangguan indikator bahan bakar,Gangguan sistem
kemudi otomatis, Semua gangguan diatas diakibatkan oleh ponsel, sedangkan
gangguan lainnya seperti Gangguan arah kompas komputer diakibatkan oleh CD
& game Gangguan indikator CDI (Course Deviation Indicator) diakibatkan oleh
gameboy. Semua informasi diatas adalah bersumber dari ASRS.
Dengan melihat daftar
gangguan diatas kita bisa melihat bahwa bukan saja ketika pesawat sedang
terbang, tetapi ketika pesawat sedang bergerak di landasan pun terjadi gangguan
yang cukup besar akibat penggunaan ponsel.Kebisingan pada
headset para penerbang dan terputus-putusn ya suara mengakibatkan penerbang tak
dapat menerima instruksi dari menara pengawas dengan baik.
Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).(Varis / pertamina)
Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?
Untuk diketahui, ponsel tidak hanya mengirim dan menerima gelombang radio melainkan juga meradiasikan tenaga listrik untuk menjangkau BTS (Base Transceiver Station). Sebuah ponsel dapat menjangkau BTS yang berjarak 35 kilometer. Artinya, pada ketinggian 30.000 kaki, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada dibawahnya. (Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 600 BTS yang semuanya dapat sekaligus terjangkau oleh sebuah ponsel aktif di pesawat terbang yang sedang bergerak di atas Jakarta).(Varis / pertamina)
Sebagai mahluk modern, sebaiknya kita ingat bahwa pelanggaran hukum adalah juga pelanggaran etika. Tidakkah kita malu dianggap sebagai orang yang tidak peduli akan keselamatan orang lain, melanggar hukum, dan sekaligus tidak tahu tata krama?
Sekiranya bila kita
naik pesawat, bersabarlah sebentar. Semua orang tahu kita memiliki ponsel.
Semua orang tahu kita sedang bergegas. Semua orang tahu kita orang penting.
Tetapi, demi keselamatan sesama, dan demi sopan santun menghargai sesama,
janganlah mengaktifkan ponsel selama di dalam pesawat terbang.
Semoga suatu hari
rakyat kita bisa sedikit lebih pintar.
Disadur dari tulisan :
Erva Kurniawan
Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K
Departemen Kelautan dan Perikanan
Jl. Merdeka Timur 16 Jak Pus 10110 Telp 021 3519070
(1044) Fax. 021 3522059
HP. 08179488718
Semoga sharing ini
bermanfat.. ^_^
Friday, February 22, 2013
"PAPA, MAMA, .. RIO TUNGGU DI PINTU SURGA"
(SEBUAH KISAH NYATA)
#Copast dari FP Mukzizat & Doa. Semoga bermanfaat
Agnes adalah sosok wanita
Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama.
Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama
Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari
pada manusia!”
Ketegasan prinsip Katolik
yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang
melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk
Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982,
mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.
Usai menikah, lalu
menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke
Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur
kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini
dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.
Di lingkungan
barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu,
Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono
saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom
Cisanggarung, Bandung.
Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Hidup harmonis dan
berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika,
kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat
mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat
mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di
wilayah utara Bandung.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.
Saat dipindahkan ke
ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk
memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar
ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu. Namun, Agnes tak mau
masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja. Martono
heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih
menggelayut dalam benak.
Di dalam, Rio
berucap, “Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,”
lanjutnya. Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah
mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan.
Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.Hingga sore
menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”
“Ya, kalau sudah
sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.
“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
Belum hilang
keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk
membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi
perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata
anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah
seorang Muslim.
Tak lama setelah itu
‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang
Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar
saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio
menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”
Saran dari seorang
pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana
seorang Muslim yang baru meninggal.
Setelah melalui
diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian,
celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak
pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio
pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di
Cimahi, Bandung.
Sepeninggal anaknya,
Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah
dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah
kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga
Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti
mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang
bertugas merawat Rio di rumah.Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil
tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”
“Mamah kan nanti
punya sendiri” jawab Rio, singkat.
Entah mengapa,
setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos
haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang
lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis
senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan
Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang
sehari-hari merawat Rio di rumah.
Singkat cerita, di
tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia
menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja
meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Kepergian Rio tak usah terlalu
dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”
Namun, pesan itu tak
lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga
harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.
Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.
“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.
“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Beberapa kejadian
aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam
lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata,
“Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh
orang lain!”.
Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Sampai suatu malam,
Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika
berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri
tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang
dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.
“Lho kok Mamah
shalat,” tanya Martono. “Maafkan saya, Pah.
Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih. Ia pasrah akan segala
resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal. Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.
Hasilnya, suara Adzan
Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan
kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir
tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan
bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama,
menyisihkan 33 peserta lainnya.
Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”
Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”
Mengetahui hal itu,
Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk
Islam.
Perjalanan panjang
yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru
sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman.
Insya Allah.
- (Profil Bapak Martono dan Ibu Agnes juga bisa disimak di Situs Pondok Pesantren Baitul Hidayat ( http://baitulhidayah.org/ profil-pewakaf/ ) yang merupakan wakaf dari mereka berdua)
Subscribe to:
Posts (Atom)

