Saturday, May 2, 2015

hitsuke.blogspot.com

Restorasi Pendidikan Berkarakter Pancasila

Sejarah Hari Pendidikan 
Berbicara tentang pendidikan pasti kita mengenal sosok tentang Ki Hajar Dewantara. Siapa yang tidak kenal sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia.

Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara , beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia, berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu di depan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya.

Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seorang peminpin ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahanya. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja.

Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

Pendidikan dan Pancasila
Adalah hal yang menarik ketika peringtan Hari pendidikan Nasional tahun 2015 memasang tema “Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila”. Pilihan tema itu dimaksudkan agar pendidikan di sekolah menjadi sebuah proses pembelajaran tidak hanya untuk mengejar kecerdasan, tapi juga mengarah pada pendidikan moral untuk membangun generasi berkarakter nilai-nilai budaya bangsa yang terumuskan dalam Pancasila. Kita melihat Indonesia dengan problem pendidikannya dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Sekilas juga kita saksikan beberapa perubahan kebijakan pendidikan kita akhir-akhir ini seakan-akan meresahkan, membingungkan, dan tanpa kejelasan. Ketika kurikulum pendidikan diubah, dunia pendidikan kita pun bagaikan sampah. Pendidikan moral di Indonesia belakangan mengalami penurunan. Banyak anak negeri kita kehilangan jiwa kebangsaan dan nasionalismenya. Sikap dan tingkah laku mereka terpengaruh oleh budaya asing dari sisi negatifnya. Kemajuan teknologi informasi memudahkan anak didik kita mengakses jaringan internet, bukan untuk pembelajaran hal-hal positif, tapi justru yang negatif. Mereka cenderung tidak mengerti adanya ajaran luhur warisan pendiri bangsa ini. Pancasila hanya mereka pahami secara tekstual. Padahal, nilai-nilai yang ada pada Pancasila merupakan basis pendidikan moral untuk membentuk kepribadian luhur, kepribadian yang berkarakter khas bangsa Indonesia.

Makna pendidikan yang disampaikan Ki Hajar Dewantara di atas seakan-akan lekang dari ingatan tokoh-tokoh pendidikan negara kita dewasa ini. Pendidikan yang seharusnya dijadikan upaya untuk memajukan budi pekerti, dirubah menjadi upaya untuk memakmurkan diri. Pendidikan yang seharusnya dijadikan upaya untuk memajukan pikiran dan tumbuh kembang anak, dirubah menjadi upaya untuk membentuk generasi anak bangsa “membeo” terhadap negara luar. Pendidikan negeri ini sudah tidak berdiri diatas kaki sendiri. Pendidikan negeri ini sudah jauh dari kontekstualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup yang sejati. Dan, yang lebih memperihatinkan lagi, pendidikan kita dewasa ini seperti tengah dirasuki oleh faham-faham emoral yang membanggakan diri sendiri. Maka menengok tema peringatan Hari Pendidikan tahun ini, mental pendidikan negeri kita harus segera direvolusi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Cerdas” mengandung arti sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir dan mengerti. Manusia yang cerdas adalah manusia yang mampu membumikan visi kehidupan ke arah yang lebih baik, kemudian mampu mensinergikan akal dengan jiwa suci dalam meraih masa depan yang lebih baik.

Sedangkan, tumbuh berarti mempunyai kemajuan. Jadi, Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila dapat kita artikan sebagai sebuah upaya untuk menyempurnakan akal budi dan kemajuan berpikir generasi kita untuk hidup dan bersifat (berkarakter) seperti yang tertuang dalam Pancasila sebagai pedoman kehidupan bangsa, terlebih dunia pendidikan kita.

Generasi Pancasilais adalah generasi ber-Ketuhan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan, memiliki kepatuhan terhadap pemimpin yang bijaksana dan mengedapankan permusyawaratan dalam kehidupan, serta sejajar dan selaras dalam bingkai keadilan disetiap lini kehidupan.

Jika kita kaitkan dengan berbagai persoalan yang melanda bangsa kita dewasa ini, tentunya tema peringatan Hardiknas yang diusung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini adalah isyarat bahwa pendidikan Indonesia semoga dikembalikan kesejatiannya dengan menguatkan aqidah dan keimanan, serta memegang teguh prinsip kemanusiaan yang sama dan adil tanpa berpijak dengan dipandu komplotan asing yang mengintai dan merusak generasi bangsa. Dan, kesemuanya itu telah menjadi tujuan dari pendidikan yang diungkapkan Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara seabad yang silam, yang hanya menitikberatkan kemajuan budi pekerti untuk kemajuan kehidupan generasi bangsa.

Kita selaku insan pendidikan, diwajibkan untuk siap menghadirkan generasi berkarakter Pancasila di negeri ini, namun dengan satu syarat biarkan kami berkreasi tanpa diprovokasi dengan kurikulum yang gonta-ganti. Jangan bedakan ikhtiar kami dengan sekolah-sekolah yang setiap hari didinginkan dengan angin buatan. Dan, perlu diingat prestasi kami bukan status PNS namun pemikiran dan kelayakan untuk membentuk generasi bangsa yang taat dan beradab.

Memperingati hari pendidikan ini , marilah kita hembuskan napas-napas harapan dengan semangat penuh pengabdian, ikhlas, dan mengharapkan ridho Allah SWT dalam perjuangan menegakkan kebaikan, menjembatani kecerdasan, menghapus perlahan kebodohan, mengkaji pantas dan tidaknya kita menjadi inspirator dalam kerinduan generasi bangsa yang sudah lama memimpikan generasi Pancasilais untuk mereka persembahkan dan saksikan kepada Tuhan-nya, kepada Malaikat, Kepada teladannya, kepada orang tuanya, kepada gurunya, kepada nusa dan bangsa, dan kepada tanah tempat berakhirnya kebanggaan dan harga karakter mereka

Friday, September 19, 2014

hitsuke.blogspot.com

MAHAL



Jika Anda membawa guci dari dinasti Ming yang mahal itu, apakah Anda akan membawanya dengan cara pegang yang sembarangan, tidak memperhatikan langkah Anda, dan melempar-lemparkannya ke udara? Tentu Jawabanyya Adalah TIDAK.
Kehati-hatian kita dalam membawa sesuatu, ditentukan oleh penghargaan kita terhadap yang kita bawa.

Ketika  saya mengantarkan adik saya untuk interview di sebuah perusahaan di Jakarta, saya cukup dibuat tercengang, takjub dan merasa super. (agak lebay si kedengarannya...)
Kami (baca : saya dan Adik) naik kereta Argo Sindoro keberangkatan pukul 06.00 untuk efisiensi waktu. Sampai di Jakarta sekitar pukul 12.00 wib. Karena takut terlambat, kami menuju tempat interview dahulu tanpa mengindahkan perut kami yang keroncongan.

Sampai di lokasi kami merasa agak sedikit beruntung karena tempat interview berada di atas mall yang tentunya ada yang namanya pujasera. Kami memutuskan untuk makan pagi plus siang karena kami ditolak oleh Perusahaan dikarenakan datang terlalu cepat dari jam janjian (maklum, saya kan miss ontime :-) ) 

Ketika membuka menu, kami agak sedikit kebingungan karena pertama, menu yang ada tidak kami kenal tapi tetap halal pastinya, kedua karena harga ter'murah' yang tertera pada menu tersebut adalah 70.000 rupiah. Dengan berat hati akhirnya kami memutuskan untuk memilih menu berharga 70.000 rupiah tersebut dengan pertimbangan kami doyan sehingga apa yang tersaji habis dimakan tidak tersisa. Kami merasa sayang dan eman-eman jika makanan yang terkesan 'mahal' itu terbuang.  Kami makan pukul 13.30 wib..

Setelah makan kami menuju ke tempat interview. Setelah selesai, kami langsung menuju ke stasiun Gambir untuk mengejar kereta dengan keberangkatan pukul 17.00 wib. Apa yang semula telah kami rencanakan yaitu makan Hokben sebelum pulang batal karena masih dan sangat kenyang. Akhirnya kami merubah rencana. Ketika sampai Semarang nanti,berhubung mobil kami terparkir dengan cantiknya di Stasiun Tawang, kami berenvana akan langsung menuju KFC Pandanaran yang buka 24 jam. Tapi rencana itu batal karena pukul 01.00 wib dini hari, turun dari kereta, kami merasa masih kenyang.

Saya sempat menganalisa, ternyata ada harga ada kualitas. Biasanya kami kalo makan spageti seharga 7.500 rupiah sampai 15.000 rupiah beberapa jam terasa lapar lagi. Ini dari pukul 13.30 sampai pukul 01.00 wib belum merasa lapar (atau mungkin nafsu makan kami lain dengan Anda ^_^ )

Sembari  merebahkan badan, saya sempat berfikir 70.000 rupiah untuk satu piring spagetty terasa amatlah mahal bagi kami, karena penghasilan kami kecil. Tetapi itu akan terasa biasa saja untuk mereka yang berpenghasilan 'lebih'

Membaca quotes Mario Teguh membuat saya teringat oleh ucapan dua orang teman saya :
Teman pertama mengatakan saya MAHAL. Dahulu saya sempat 'sakit hati' sekali dikatakan demikian, dan sempat berhenti untuk mengejar karir maupun penghasilan yang "Lebih". Tapi itu semua sirna ketika bertemu dengan teman kedua saya yang mengatakan 'Pria yang Sukses Tidak Akan Takut Untuk Mendekati Wanita Sukses'

Seperti biasa saya selalu menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lain sesuai dengan analisa positif saya sendiri, yang dapat menguatkan dan memotivasi diri saya sendiri. Saya berprasangka positif terhadap teman pertama yang mengatakan saya "Mahal". Mungkin dimata teman saya itu, saya seorang wanita yang sukses dan dia tidak dapat mengimbangi saya, sehingga dia mengatakan seperti itu untuk membunuh motivasi saya. Atau mungkin dia tahu bahwa dengan keuletan dan kegigihan saya mewujudkan semua impian saya, di masa depan saya akan menjadi seorang wanita 'Mahal'

Teman kedua saya selalu memotivasi saya untuk lebih kuat pada Pembawaan. Karena dia tahu saya Labil dan Minder. Pembawaan yang anggun, tertata dan santun membuat kita lebih dihargai. Anggun karena kita tahu  kita ingin dilihat orang sebagai orang yang di hargai. Santun, kita ingin orang lain merasa di hormati. Jika kita bisa membawa diria untuk menghormati orang lain maka pantas diri kita di hormati oleh orang lain. Membawa diri sebagai orang yang pantas di bayar mahal

Thursday, September 18, 2014

hitsuke.blogspot.com

Pola Asuh Adalah Pendidikan Karakter

“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum



Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta
Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai tenaga kependidikan telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.


Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya


Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memori bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.

Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak relasi dan kenalan-kenalan saya yang merasakan bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?

Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara Anda tidak sadari.

Jika kita orang tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak pada waktu sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak Anda (yang halal tentunya).

sumber : http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak/

Thursday, July 24, 2014

hitsuke.blogspot.com

Larangan Menganiaya Diri Sendiri

Dewasa ini sudah tidak asing lagi ditengah-tengah masyarakat yang kebanyakan adalah orang-orang muslim dengan berbagai cara melakukan perbuatan yang mengarah kepada penganiayaan diri sendiri dan bahkan ada yang sengaja bunuh diri. Dimana semua tingkah polah orang-orang yang berbuat sedemikian sulit untuk diterima oleh akal sehat, apalagi oleh orang-orang yang beriman. Mereka yang melakukan penganiayaan terhadap diri mereka sendiri sebenarnya melakukannya dengan cara sadar namun sebenarnya mereka sangatlah bodoh, karena sama sekali tidak ada manfaat yang diperoleh didalamnya kecuali kemudharatan yang mungkin akan dirasakan secara berkepanjangan. Penganiayaan terhadap diri sendiri di dalam syari’at islam dikenal pula dengan sebutan mendzalimi diri sendiri. Banyak contoh yang dilakukan orang-orang yang sengaja menganiaya diri sendiri misalnya melakukan demonstrasi mogok makan, menjahit mulut atau bibir. Ada pula dalam rangka menunjukkan penampilan atau kecantikan diri dengan menindik bibir, hidung dan lain sebagainya. 

Dzalim
Para ulama mendefinisikan dzalim sebagai: “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya." Sedangkan definisi orang dzalim (menganiaya dirinya sendiri) ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya. Menurut Al-Alusi, menganiaya diri sendiri sebagai perbuatan dosa amat sesuai dengan fakta. Adzab yang dijatuhkan kepada manusia sesungguhnya merupakan balasan terhadap perbuatan dosa manusia. Sehingga, ketika seseorang melakukan perbuatan dosa, hakikatnya dia telah menganiaya dirinya, yakni menjatuhkan dirinya sendiri kepada siksa-Nya. Allah Swt berfirman:
 
"Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka." (QS. Huud : 101 )

Para pelaku dosa sebagai orang yang-orang yang mendzalimi diri mereka sendiri terdapat dalam beberapa ayat, antara lain firman Allah :

"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya  datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." ( QS. An Nisaa : 64 )  
 
Selain itu ada pula yang menyebutkan sebagai tidak memberikan hak diri sendiri, seperti berpuasa terus menerus tanpa berbuka, melakukan shalat terus menerus tanpa tidur padahal tubuhnya sudah tidak kuat lagi, dan yang semisalnya.

Dari pengertian dzalim tersebut diatas, maka mendzalimi diri sendiri berarti adalah melakukan suatu perbuatan yang diarahkan pada dirinya sendiri namun perbuatan tersebut bukan pada tempatnya dilakukan. Kedzalimin terhadap diri merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang kejam bahkan bengis, keji dan hina yang menyebab timbulnya kesengsaraan pada diri sendiri. Intinya adalah bahwa perbuatan dzalim itu adalah termasuk semua perbuatan yang dilarang oleh syari’at sehingga ia merupakan perbuatan dosa.
Dicontohkan dalam Al-Qur’an  ayat yang menggambarkan tentang perbuatan dzalim pada diri sendiri yaitu orang yang mempunyai sifat angkuh sebagaimana firman Allah :
 
"Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri [882]; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya", ( QS. Al Kahfi: 35 ) 
 
Beberapa Dalil Mengenai Perbuatan Menganiaya (Dzalim ) Terhadap Diri Sendiri

Perbuatan dzalim terhadap diri sendiri disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang merupakan dalil bahwa perbuatan dzalim pada diri sendiri dilarang oleh Allah. Di dalam Al-Qur’an disebutkan ada 13 ayat yang menyinggung tentang perbuatan menganiaya ( dzalim ) terhadap diri sendiri, antara lain dikutipkan beberapa ayat sebagai berikut :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

1. Surah Al Baqarah (2) ayat : 54

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُواْ إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

2. Surah Al Baqarah ( 2 ) ayat 57 :

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُون

"Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa" [53]. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."

3. Surah An Nisaa ayat 110 :

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Selain banyaknya ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang menganiaya ( mendzalimi ) diri sendiri, hadits dari Rasulullah juga membicarakannya, antara lain sebagai berikut :
1. Hadits riwayata Abu Daud
2.Hadits riwayat Tirmidzi
  
Ancaman Terhadap Orang-orang Yang Melakukan Perbuatan Dzalim

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al Qur’an bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia akan mendapat balasan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az Zalzalah : 7-8 )

Sesungguhnya Allah Swt sangat tidak menyukai terhadap perbuatan dzalim, perhatikan firman-Nya: 

"Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." ( QS. Ali Imran : 57 )

Dan perhatikan juga firman-Nya yang lain:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema'afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (QS.Asy-Syuura:40 )



Perbuatan Yang Dikatagorikan Sebagai Perbuatan Dzalim ( Aniaya ) Terhadap Diri Sendiri


Sesuai dengan keterangan-keterangan dari beberapa ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, maka sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang termasuk dalam katagori menganiaya ( dzalim ) terhadap diri sendiri cukup banyak, antara lain dapat dikemukan beberapa contoh kecil sebagai berikut :

1. Melakukan berbagai tindakan penganiayaan atau penyiksaan terhadap fisik terhadap anggota batang tubuhnya secara sengaja sehingga yang bersangkutan merasa tersiksa dan kesakitan yang membawa penderitaan baik dalam jangka waktu pendek atau relatif berkepanjangan dan bahkan menyebabkan kematian. Seperti misalnya memukul, melukai anggota tubuh, menjatuhkan diri dari tempat ketinggian atau melakukan perbuatan bunuh diri dengan cara gantung diri, menceburkan diri, membakar diri dan lain-lain sebagainya.

2. Melakukan berbagai tindakan yang secara tidak langsung dapat berdampak buruk bagi diri sipelaku, karena perbuatan yang dilakukannya tersebut menyebabkan timbulnya penderitaan baik fisik maupun mental, meskipun perbuatan tersebut dilakukan bukan bertujuan untuk menimbulkan kemudharatan bagi dirinya. Bahkan perbuatan yang dilakukannya sebenarnya bertujuan untuk memperoleh kesenangan belaka. Tetapi akhirnya membuat kesengsaraan. Banyak sekali contoh perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang pada awalnya sekedar untuk bersenang-senang memperoleh kenikmatan atas perbuatannya namun berakhir kepada kemudharatan, antara lain :
- Meminum Khamer (minuman keras), mengkonsumsi narkoba, merokok, mengkonsomsi makanan halal secara melampaui atas, begadang sampai larut malam.
- Mengendarai motor ugal-ugalan dengan kecepatan tingi dan balapan liar
- Bermain dengan meniru-niru orang-orang yang sudah professional seperti panjat tebing, olah raga terjun payung, terbang laying
- Bermain-main dengan senjata, bermain-main dengan petasanan

3. Melakukan demonstrasi dengan mogok makan, aksi jahit mulut, membakar diri dengan maksud agar tuntutannya mendapat perhatian atau dipenuhi.

4. Tidak mau melaksanakan perintah-perintah yang diwajibkan oleh Allah Swt seperti sholat fardu dan sunah, tidak berpuasa, tidak membayar zakat, tidak melakukan ibadah haji padahal mempunyai kemampuan, tidak mau melakukan amal kebajikan. Akibat enggan melaksanakan perintah-perintah yang diwajibkan tersebut maka dosa yang diperoleh.

5. Melakukan berbagai perbuatan yang dilarang karena mengikuti hawa nafsu dan godaan syaitan sehingga diri diliputi dengan banyaknya dosa sebagai akibat melakukan berbagai ragam kemaksiatan, berupa zinah, mencuri, berjudi, menipu serta sifat-sifat tidak terpuji lainnya .

6. Melumuri diri dengan sifat-sifat tidak terpuji seperti iri dan dengki  (tidak suka melihat kebahagiaan orang lain), angkuh dan sombong, ujub, riya, takabbur, tinggi hati, mau menang sendiri, melakukan fitnah (menuduh), buruk sangka, bermuka dua, suka berdusta dan berbagai macam penyakit hati lainnya yang menimbulkan dosa.

Kedzaliman yang dilakukan oleh seseorang yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri sesungguhnya adalah sebuah perbuatan yang tidak layak dilakukan karena yang bersangkutan telah melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya dan bertentangan dengan rasa keadilan dan hati nuraninya. Sehingga seyogyanya kedzaliman tersebut tidaklah perlu dilakukan mengingat keharamannya. Sedangkan apabila seseorang telah merasa berbuat kedzaliman pada dirinya sendiri maka segeralah bergegas meminta ampun dan bertaubat. Sesungguhnya perbuatan dzalim itu merupakan perbuatan yang dilaknat Allah, karena perbuatan dzalim kepada diri sendiri itu hanyalah mendatangkan kemudharatan dan tidak akan sedikitpun mendatangkan kemaslahatan. Untuk itu bagi siapa saja yang suka berbuat dzalim pada dirinya sendiri dengan melakukan berbagai perbuatan yang diharamkan oleh syari’at segera menghentikan kebiasaan yang buruk tersebut

 Sumber : http://musnijaprie-alpasery.blogspot.com/2012/01/larangan-menganiaya-diri-sendiri_4122.html
 
hitsuke.blogspot.com

Stres dan Depresi Bisa Jadi Akibat Tidak Menjalankan Agama

## Mari Instropeksi ##


"Dan  barangsiapa  berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari  kiamat  dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)
"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al An'aam, 6:125)

Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Allah menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai ragam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan melemah.

Sebaliknya, karena orang-orang beriman sehat secara kejiwaan, mereka tidak terkena stres, atau berkecil hati, dan jasmani mereka senantiasa prima dan sehat. Pengaruh baik akibat ketundukan mereka kepada Allah, tawakal mereka kepada-Nya dan kepribadian kokoh mereka, kemampuan melihat kebaikan dalam segala hal, dan ridha dengan apa yang terjadi sembari berharap akan janji-Nya, tercermin dalam penampilan raga mereka. Hal ini tentu saja dialami oleh mereka yang menjalani hidupnya sesuai ajaran Al Qur'an, dan yang benar-benar memahami agama. Tentu saja mereka pun dapat menderita sakit dan pada akhirnya mengalami penuaan, namun proses alamiah ini tidak disertai dengan kerusakan pada sisi kejiwaan sebagaimana yang dialami oleh selainnya.

Stres dan depresi, yang dianggap sebagai penyakit zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah, pilek, migrain [sakit kepala berdenyut yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan umumnya disertai mual dan gangguan penglihatan], sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung, dan pembengkakan otak. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Stres, yang menimpa begitu banyak orang, adalah suatu keadaan batin yang diliputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas dan berbagai tekanan lainnya, yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh.

Oleh karena stres yang parah, khususnya, mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan, penyakit pernapasan, eksim. Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak.
 
Penegangan yang diakibatkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah ke daerah-daerah tertentu di kepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan langsung berakibat pada rasa sakit, sebab suatu jaringan yang di satu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan di sisi lain telah mendapatkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Di saat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Demikianlah, rasa sakit berakibat pada penegangan, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan memperparah rasa sakit.

Akan tetapi, salah satu dampak paling merusak dari stres adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tidak sabar, dengki, suka memusuhi dan mudah tersinggung memiliki peluang terkena serangan jantung jauh lebih besar daripada orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat tersebut. Alasannya adalah bahwa rangsangan berlebihan pada sistem saraf simpatetik [yakni sistem saraf yang mengatur percepatan denyut jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dsb.], yang dimulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Ini adalah permasalahan yang teramat penting. Sebab, tak satu pun keadaan yang berujung pada penyakit jantung koroner memainkan peran yang sedemikian paling penting dan sedemikian berbahaya sebagaimana kelebihan insulin dalam darah.

Stres kejiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan dan berujung pada kerusakannya. Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, yang melemahkan sistem kekebalan. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para pakar di bidang ini menyatakan: "Pengkajian terhadap stres kejiwaan atau stres raga telah mengungkap bahwa selama stres berat berlangsung terjadi penurunan pada daya kekebalan yang berkaitan dengan keseimbangan hormonal. Diketahui bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan dari banyak penyakit termasuk kanker terkait dengan stres."

Singkatnya, stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia. Mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus-menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh. Para ahli menggolongkan dampak buruk dari stres terhadap tubuh manusia dalam sejumlah kelompok utama sebagaimana berikut:
- Cemas dan Panik: Suatu perasaan yang menyebabkan peristiwa tidak terkendali.
- Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak
- Perubahan suara: Berbicara secara gagap dan gugup
- Aktif yang berlebihan: Pengeluaran energi yang tiba-tiba, pengendalian diabetik yang lemah
- Kesulitan tidur: Mimpi buruk
- Penyakit kulit: Bercak, bintik-bintik, jerawat, demam, eksim dan psoriasis.
- Gangguan saluran pencernaan: Salah cerna, mual, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan
- Penegangan otot: gigi yang bergesekan atau terkunci, rasa sakit sedikit tapi terus-menerus pada rahang, punggung, leher dan pundak
- Infeksi berintensitas rendah: pilek, dsb.
- Migrain
- Denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar, rasa sakit pada dada, tekanan darah tinggi
- Ketidakseimbangan ginjal, menahan air
- Gangguan pernapasan, pendek napas
- Alergi
- Sakit pada persendian
- Mulut dan tenggorokan kering
- Serangan jantung
- Melemahnya sistem kekebalan
- Pengecilan di bagian otak
- Perasaan bersalah dan hilangnya percaya diri
- Bingung, ketidakmampuan menganalisa secara benar, kemampuan berpikir yang rendah, daya ingat yang lemah
- Rasa putus asa yang besar, meyakini bahwa segalanya berlangsung buruk
- Kesulitan melakukan gerak atau diam, memukul-mukul dengan irama tetap
- Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau kesulitan melakukannya
- Mudah tersinggung dan sangat peka
- Bersikap yang tidak sesuai dengan akal sehat
- Perasaan tidak berdaya atau tidak berpengharapan
- Kehilangan atau peningkatan nafsu

Kenyataan bahwa mereka yang tidak mengikuti nilai-nilai ajaran agama mengalami "stres" dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur'an:
"Dan  barangsiapa  berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari  kiamat  dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)
Dalam sebuah ayat lain, Allah telah menyatakan bahwa "… hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja…" (QS. At Taubah, 9:118)

Kehidupan yang "gelap dan sempit" ini, atau stres, nama yang diberikan di masa kini, adalah akibat ketidakmampuan orang-orang tak beriman untuk menaati nilai-nilai akhlak yang diajarkan agama. Kini, para dokter menyatakan bahwa jiwa yang tenang, damai dan penuh percaya diri sangatlah penting dalam melindungi pengaruh stres. Kepribadian yang tenang dan damai hanya dimungkinkan dengan menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Sungguh, telah dinyatakan dalam banyak Al Qur'an bahwa Allah akan memberikan "ketenangan" dalam diri orang-orang beriman. (Al Qur'an, 2:248, 9:26, 40, 48:4, 18)

Janji Allah terhadap orang-orang beriman telah dinyatakan sebagaimana berikut:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS, An Nahl, 16: 97)

Sumber : http://waanakbar.blogspot.com/2012/11/stres-dan-depresi.html