Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Sunday, December 27, 2020

hitsuke.blogspot.com

Ada Luka Dibalik Pertanyaan "Kapan Nikah"

Memasuki usia yang cukup untuk menikah, baik laki-laki maupun perempuan yang masih melajang pasti sering ditanya "kapan nikah".  Tak jarang pertanyaan ini dapat mengganggu pikiran dan membuat tertekan. Ajang kumpul keluarga maupun teman lama biasanya tidak lepas dari pertanyaan "kapan nikah?", "kapan nyusul?", "mana calonnya?", "kebanyakan milih-milih sih..." dan sebagainya. Alij-alih menaruh perhatian pada yang ditanya, pertanyaan-pertanyaan itu dianggap wajar dan dengan entengnya dilayangkan kepada kerabat atau teman yang terlihat masih sendiri. Itulah sebabnya mengapa Saya menghindari ajang kumpul-kumpul maupun reuni.

Menurut Psikolog Klinis dan sexuality Educator, Ines Kristanti, M.Psi., Psikolog, perhatikan bagaimana konteks orang menanyakan kepada Kita. Selain itu pikirkan juga apa tujuan yang ingin mereka mau atas pertanyaan tersebut. Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan sejenis memang murni sebagai bentuk perhatian saat melihat teman atau kerabat yang belum melepas masa lajang. Bisa juga mereka  menanyakannya sebatas candaan iseng atau ingin tahu alias kepo. 

Namun, yang sering kali tidak disadari adalah  dampak psikologis dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pernahkah terpikirkan bahwa mereka yang belum menikah sebenarnya merasa sedih dalam hatinya karena tidak kunjung dipertemukan dengan jodohnya, dan pertanyaan "kapan nikah" justru menambah kesedihannya, menambah beban pikirannya. Cobalah untuk menempatkan diri di posisi mereka. 

Memang, ada beberapa jawaban yang bisa diberikan. Mulai dari jaawaban logis sampai jawaban sadis. Namun alangkah lebih baik menjawab dengan jawaban yang baik-baik dan sarat dengan doa. Siapa tahu ada malaikat lewat dan menyampaikannya kepada Allah sehingga doamu segera terkabul. 

Saat ini yang terpenting adalah menata kembali hatimu agar bisa menerima kehadiran calon pasangan. Ikhlaskanlah luka yang telah lalu. Saat kita telah mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada diri kita, berdamai dengan diri sendiri, menerima diri apa adanya dan bersyukur, maka pada saat itulah kita mulai menemukan kebahagiaan diri kita. 

Tak dapat dipungkiri , dalam konsensus umum negara kita, perempuan akan dianggap “enggak laku atau terlalu selektif” ketika belum menikah di usia 30 tahun. Jika batas waktunya tiba, bersiap-siaplah diberondong pertanyaan “kapan nikah?”. Meskipun awalnya Saya termasuk orang yang tidak pernah ambil pusing dengan stereotip  tersebut dan sudah 'kebal' dengan pertanyaan "kapan nikah?" saja sempat berpikir untuk 'lari' ke Jakarta dimana masih banyak teman Saya yang berusia lebih dari 30 tahun dan masih melajang dapat dengan tenang menjalani kehidupannya tanpa diribeti pertanyaan "kapan nikah?".

Konsensus sosial membentuk standar kebahagiaan yang berbeda bagi perempuan. Mereka dituntut menikah cepat dan punya anak untuk bisa dapat predikat 'bahagia'. Sementara standar yang sama tidak disematkan kepada laki-laki. Amat jarang bagi laki-laki mendapat komentar nyinyir soal pernikahan di umur yang menginjak kepala tiga. Laki-laki lebih sering ditanya soal jabatan, atau pekerjaan, sesuatu hal yang bisa diusahakan. Pertanyaan yang sama tidak berlaku untuk perempuan. Mereka dilihat dari hal-hal yang kadang mereka sendiri tak punya kuasa untuk memperjuangkannya. Setinggi apa pun jabatan dan prestasi perempuan, mereka akan tetap ditanya soal nikah dan anak :( 

Saya kadang berpikir, sia-sia perjuangan Kartini kalau masih ada orang yang berpikir seperti itu. Apalagi sesama perempuan. Masak sebagai perempuan tidak boleh untuk bercita-cita setinggi-tingginya? bermimpi setinggi-tingginya? (jadi Bupati misalnya :D ups....)

Ketika mendapatkan pertanyaan-peertanyaan tersebut, Saya enggan untuk menjawab. Saya memilih jawaban sadis dan sarkas seperti, "mau nyumbang berapa nanya-nanya kapan nikah?", atau "pangeran berkuda putihnya lagi kena macet" dan lain sebagainya. Tetapi Saya juga melihat siapa yang bertanya. Jika yang bertanya Tante, Om, Pakde lebih baik Saya tidak menjawab daripada dianggap nggak sopan. :D 

Semoga, orang-orang yang sering tanya ‘kapan’, sadar bahwa pertanyaan itu unfaedah. Kecuali benar-benar peduli dan mau membantu menemukan pasangan atau menyumbang untuk biaya pernikahan, itu beda urusan. Tapi kalau hanya untuk basa-basi atau sekadar penasaran, lebih baik stop saja lah.

Salah satu penyebab tingginya angka perceraian di Indonesia adalah menikah muda tanpa kesiapan psikologis. Jangan jadi penyebab angka ini bertambah tinggi dengan terus-terusan bertanya, “Kapan nikah?” dan sebagainya. Satu hal yang jadi perhatian saya adalah mengapa orang-orang tidak menanyakan hal yang sama saat menghadiri pemakaman. Tidak ada satupun dari pelayat yang hadir melontarkan pertanyaan, “kapan mau nyusul dikubur?”. Oke, mungkin itu pertanyaan yang tidak sopan. Tapi, apakah pertanyaan “kapan nikah” itu sopan? Bukankah rezeki, jodoh dan maut sama-sama rahasia Allah? Lalu kenapa kita hanya kepo soal urusan pernikahan dan keturunan orang lain tapi tidak soal kematian? 

Kita tidak pernah tahu mengapa seseorang tak kunjung menikah. Bisa saja karena ada trauma, masih banyak tanggungan, masih ada mimpi yang belum dicapai, masih ingin keliling dunia, dan sebagainya. Atau bisa saja mereka telah berikhtiar semakismal mungkin namun belum mendapat kepercayaan dari Allah. Semua pertanyaan berbau “kapan” sama sekali tidak membantu, namun justru bisa menambah beban. Bahkan, bisa jadi pertanyaan tersebut merenggangkan tali silaturahmi. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak baik, maka diamlah.” Diam saja dan tidak kepo tentang urusan pribadi orang lain justru lebih baik daripada berkata-kata namun menyakiti.  Walau mungkin pertanyaan “kapan nikah” dan sejenisnya merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang, namun seringkali kita tak sadar bahwa ada luka di balik itu. 

So, daripada melontarkan pertanyaan “kapan nikah” dan kapan-kapan yang lain yang ujung-ujungnya bisa melukai hati, akan lebih baik apabila kita mendoakan mereka saja. “Semoga Allah mendekatkan jodohmu” atau “semoga Allah melancarkan rezekimu.” Doa-doa seperti ini tentu lebih enak didengar daripada pertanyaan bernada menodong atau menuntut. Dan, yang pasti, tidak ada hati yang terluka saat mendengarnya. ;)

Wednesday, March 27, 2019

hitsuke.blogspot.com

Alasan kenapa Jadi Anak (dianggap) Orang Kaya itu tidak enak.

Jadi anak orang kaya? Wuih pasti hidupnya seneng banget, jauh dari penderitaan, selalu bahagia. Kebahagiaan bukanlah karena harta, tetapi karena hati. 


Saya menulis ini mungkin karena curhat colongan karena Saya tergolong orang yang agak introvet dan tidak mudah mengungkapkan isi hati kepada orang lain secara langsung. Atau mungkin juga karena bahasa tulisan Saya lebih halus daripada bahasa lisan Saya. Terserah bagaimana pembaca menyikapi. Beberapa tahun yang lalu Saya pun sempat menulis perasaan Saya ketika ada seseorang yang mengatakan Saya MAHAL ( https://minakoangel.blogspot.com/2014/09/mahal.html ) padahal Saya tidak dijual atau menjual diri lho.... hahahahahaha.....


Pengantarnya sudah cukup, sekaranng masuk ke topik curhatannya, kenapa si jadi anak (dianggap) Orang Kaya itu nggak enak. Disini Saya pake dalam kurung dianggap karena yang memberikan label 'Orang Kaya' pada orang tua adalah masyarakat sekitar, bukan Saya. Karena menurut Saya semua manusia itu sama dihadapan Tuhan, yang membedakan di dunia adalah 'bejo' sama 'ora bejo'. Dan Saya dan orang tua mungkin termasuk yang 'bejo' dalam hal materi. 

Ini lho alasan kenapa jadi anak (dianggap) orang kaya itu tidak enak

1. Harapan Tinggi Dari Keluarga
  • Semua orang dalam keluarganya terutama mami papinya adalah orang yang sukses di bidangnya, bahkan mereka rata-rata udah sukses di usia muda. Jadi wajar dong kalo ortu dan keluarga pengen dia juga sukses minimal sama dengan kesuksesan ortunya. 
  • Itu pasti jadi sesuatu yang membebani dan butuh kepercayaan diri dan usaha yang besar. Mereka merasa hidup nggak berarti kalau nggak sukses kayak mami papinya. 
Alhamdulillah Ayah dan Ibu Saya termasuk orang yang sukses di bidangnya. Jujur ini sangat membebani pikiran Saya. Seorang anak pasti dong berkiblat pada orang tuanya. Saat ini Saya merasa tidak dapat atau lebih tepatnya belum dapat menyamakan apa yang Saya raih dengan yang Ayah Ibu Saya raih (dalam hal ini mungkin berkaitan dengan prestise), meskipun teman-teman memandang Saya termasuk Wanita yang berpendidikan tinggi, berkarier bagus dan MAHAL (ahahahaha, entah kenapa Saya masih sakit hati dikatain MAHAL) namun Saya merasa Saya masih bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Mereka Saja yang Salah menilai.

2. Kurang dikenali secara Pribadi
  • Orang-orang pasti lebih kenal dirinya sebagai anak dari Bapak ato Ibu S yang super kaya di kampung, yang mobilnya 17 dan punya banyak perusahaan. Dia selalu berada di bayang-bayang ortunya yang kaya.
  • Apapun yang dilakuinnya pasti dianggap bakalan mudah wong anak orang kaya kok! Padahal bisa saja itu karena kerja kerasnya sendiri dan gak ada campur tangan ortunya. Tapi orang mana mau tau itu? Kalo pun dijelasin orang juga gak bakalan percaya.
That's Right. Ini pernah Saya alami ketika Saya berada di sebuah Kota kecil, dimana ibarat daun jatuh pun seantero kota bakal tahu. Alhamdulillah nama Ayah Ibu Saya termasuk diperhitungkan di sana. Itu sebabnya Saya tidak mau berkarir di Kota tersebut dan memilih menetap di kota besar, kota tempat kelahiran Saya setelah lulus kuliah, padahal Saya sempat membuka usaha kecil-kecilan lho di Kota X yang akhirnya Saya tinggalkan karena Saya ingin dikenal sebagai Saya bukan sebagai putra Bapak S Ibu E.

3. Susah mengukur keikhlasan Mereka yang dekat dengannya
  • Anak orang kaya udah terkenal banyak duit dan harusnya murah hati karena punya cukup banyak untuk dibagikan. Temen-temen yang ada di sekitar mereka jadi susah buat ngukurnya. Termasuk kalo ada yang berusaha jadi pacar. Susah ngukur motivasinya. Apa beneran suka atau suka duitnya aja. 
  • Mereka ini juga pengen disukai dan dicintai sebagai pribadi sebagaimana mereka adanya, terlepas dari uang yang ada di kantongnya. Tapi kita semua suka gak bisa ngebedain hal itu bukan? 
That's RightIni kenapa Saya selalu curiga pada kepada teman-teman Pria yang mendekati dan ingin menjadikan Saya sebagai pacar. Ini pula sebabnya Saya lebih memilih menetap di kota besar tempat kelahiran Saya dan pernah menolak fasilitas yang akan diberikan pada Saya. Cuma mau lihat siapa yang tulus dan siapa yang modus. 

4. Temen ngarep dibayarin.
  • Dimanapun dia berada dan ketemu temen-temen, dia suka bingung jika harus selalu ngebayarin belanjaan atau makan mereka. Dia seolah kas berjalan yang harus selalu siap dengan duit banyak, buat bayarin temen-temennya. Belum lagi barisan orang yang selalu minta traktiran, minta dibeliin oleh-oleh, minta dikasi hadiah, minta dibeliin inilah itulah.. padahal mereka ini juga seneng kalo ada yang traktir.
Ini kenapa Saya tidak pernah memulai 'mengajak jalan' teman-teman. Kalau Saya 'diajak' ayo.. ayo.. saja. Karena mohon maaf (bukan bermaksud menyinggung atau su'udzon), teman-teman di lingkungan Saya (terutama perempuan, laki juga ada tapi dikit) setiap Saya ajak selalu bilang 'bayari...' Kan Saya jadi males, padahal kalau Saya yang diajak Saya selalu berusaha merogoh kocek sendiri. Mereka pikir Saya bank apa, selalu ada uang huh...!!!

5. Orang pikir, Kaya berarti nggak pernah punya masalah
  • Anak orang kaya haram hukumnya buat galau dan susah, karena kaya itu identik dengan kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan, pokoknya gak boleh ada kata susah dalam kamusnya. Kenyataannya mereka ini juga manusia biasa kayak kamu dan saya, yang punya masalah. Meski punya banyak uang, kadang uang gak bisa nyelesein semua masalahnya. 
  • Saat mereka lagi galau semua orang gak percaya, seolah galau itu hanya dibuat-buat dan masalahnya juga diada-adakan. Apa sih yang harus digalauin orang kaya? Kan semua udah disediain?
Saat Saya galau karena lagi nggak punya uang karena lagi nganggur atau baru saja resign, teman-teman pasti mengatakan masa kamu nggak punya uang? kan naikmu mobil? Hellow.... apa iya mobil bisa jalan sendiri tanpa bensin? Untuk beli bensin memangnya bisa pake senyum, kan ya harus pake uang. Dapat uang darimana jika posisi tidak bekerja?
Kan online shop mu jalan. Heloww.... seberapa si pendapatan dari jualan itu. Buat beli bensin sekali saja langsung habis. Atau ketika Saya meminta lowongan pekerjaan pada teman, pasti pada bilang, aduh ga berani bayar direktur. Sepertinya mereka semua perlu ditutur dengan pitutur jaa kalau 'urip iku sawang sinawang, ojo mung nyawang sing kesawang.'

Jadi anak (dianggap) orang Kaya juga sering dibuat merasa bersalah, begitu banyak kecemburauan karena seperti saya bilang tadi kebetulan alias 'bejo' lahir di keluarga yang Alhamdulillah berkecukupan. Banyak kalimat-kalimat kecemburuan bahkan sampai dikatain MAHAL yang sering Saya dengar seperti, "kamu pasti nggak pernah ngerasain susahnya cari duit buat kuliah", "kalau aku jadi kamu aku pasti....bla..bla...bla.."

Hellow... Stop menjudge. Saya tidak pernah meminta Tuhan untuk dilahirkan di keluarga yang (dianggap) Kaya. Tuhan yang mentakdirkannya. Satu hal lagi, kaya itu bukan berarti bisa membeli segalanya. Justru orang kaya itu sangat berhati-hati mengeluarkan uangnya, bukan asal belanja, bukan asal memberi. Bukannya pelit lho ya.... Karena bagi mereka bagaimana uang yang mereka punya bisa diputar untuk menghasilkan yang lebih banyak. Sering ada di medsos-medsos, perbedaan orang Kaya dan yang pura-pura Kaya kan. Nah baca dulu deh....!!! 


Sunday, May 29, 2016

hitsuke.blogspot.com

Surat Cinta Untuk Masa Laluku

Untukmu dimanapun sekarang berada. Aku tak tahu kenapa kamu tiba-tiba hadir dibenakku. Dan seperti biasa, kehadiranmu selalu membuatku menangis. Taukah kamu, bahwa sesungguhnya kamu adalah halaman buku paling menarik seperti halaman buku Tere Liye, Dee Lestari atau Andrea Hirata yang selalu ingin aku kunjungi, ku baca, ku resapi lalu berulang-ulang berhasil mendoktrin pikiranku. 
 
Sejenak aku tercekat, seperti apakah posisiku dihatimu sekarang dan saat itu? Sebagai kekasih kah? Sebagai Adikkah? Sebagai Kakakkah atau sebagai RIP (Rest In Peace) 
 
Apapun itu, terima kasih telah bersedia hadir dalam hidupku, mengisi dan mewarnai hariku yang sempat kelabu. Meskipun ketika bersamamu tak bisa ku pungkiri hanya air mata yang akhirnya menghiasi. Kamu bahkan tak kan pernah tau betapa kamulah yang telah menghancurkan semua prinsip dan egoku.
 
Aku mungkin aku terlalu berlebihan dengan satu kisah yang pernah kita ukir. Sudah ku coba untuk mengikhlaskan dan melupakan mu. Dengan tingkat kesibukan yang telah aku jalani selama 4 tahun ini hampir berhasil menjauhkanmu tapi tidak berhasil melupakanmu Karena, berbagai pesona yang mencoba menarik perhatianku belum ada yang bisa menandingimu. 
 
Terkadang terlintas engkau tiba-tiba datang meskipun hujan badai di luar sana hanya untuk mengusap air mataku. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Itu hanya terjadi dalam senetron romantis. This is Realita. 
 
Terima kasih telah menjauhiku, karena, dengan begitu, aku tau ada titik dimana kita pernah merasa dekat. Sangat dekat Walau itu. Dulu....... 
 
Jika kamu (mungkin) masih sempat, peduli atau bahkan sempat membaca postingan ini (Hey, dalam tahap ini, aku bukan sedang mengiba atau berusaha membuat hati mu gerimis. Bukan itu) Kenang aku sebagai seorang.... sebut saja sebagai masa lalu. Sebut saja sebagai wanita yang pernah kau ambil hati nya penuh-penuh, namun pada akhir nya, kau kembalikan lagi separuhnya saja. Hati ku masih belum kau kembalikan penuh-penuh. Dan separuh hati ini selalu berhasil memaksaku untuk menuliskan kata-kata bodoh ini untuk mu, separuh hati ini selalu berhasil membuat ku menitikkan sedikit saja air mata, jika kamu mulai berkelebatan lagi di pikiran ku.....Sedikit saja. 
 
Jika kini, di setiap bangun dan tidurmu aku yakin bukan lagi aku yang mampir di pikiranmu (mungkin dulu pun bukan aku) sangat tidak apa-apa. Tapi, Jangan pernah salahkan aku, Jika malam-malam dan lelapku, aku masih di hampiri mimpi yang sama. Mimpi tentang kisah kita berdua, bergulir, seperti nyata walau sebenarnya itu hanya berserakan di masa lalu yang kini susah payah aku ubah. Dan disana, aku selalu bertanya-tanya "Sampai kapan, hey Kamu?" 
 
Segala yang hilang, akan diganti dengan yang lebih baik.. Dan, Kamu sudah sampai pada titik itu. Tak apa jika kerabat, sahabat dan rekan mu menjadikan ku sebagai perbandingan. Bukankah sifat kita -manusia- adalah selalu membandingkan? Tak apa jika pada akhirnya bukan aku yang akan bergabung dalam silsilah dan foto keluargamu. Bukan kah itu bagian dari takdir? Dan skenario Tuhan yang selalu kita percayai hingga kini, adalah skenario yang terbaik? 
 
Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang ingin aku lontarkan. Mengapa kita mesti bertemu jika pada akhirnya kita tidaklah satu? Orang-orang disana selalu menjawab : "karena, kita harus bertemu orang yang tidak tepat, sebelum akhirnya bertemu orang yang tepat" . Jadi, baiklah. Setidaknya bisa kusimpulkan aku bukanlah orang yang tepat. Aku adalah persinggahan sementaramumu. Aku adalah ujian. Aku adalah masa lalu. 
 
Ketika kamu dan dia sedang berbahagia merencanakan piknik keluarga, aku masih sibuk sendiri. Sibuk akan masa lalu yang belum selesai. Hey, aku tidak menyalahkanmu.. Ini bukan pilihanku tapi ini takdirku. Namun, aku berjanji tidak akan lama lagi. Karena, aku percaya.. Tuhan sudah menyediakan pula Jodoh ku. Jodoh. Bukan pengganti mu. Yang akan mendekapku lama-lama. Hingga aku lupa. Hingga aku amnesia. Luka itu apa? Dunia kita tak lagi sama, mimpi kita sudah berbeda. 
 
Sebagai apapun aku dihatimu, terima kasih sudah mau peduli. Bahagia untuk mu. Selalu. 
 
*Inspirated Song Ratusan Purnama - Melly Goeslow dan Marthino Lio Ost AADC 2

Sunday, January 17, 2016

hitsuke.blogspot.com

Perlukah Serikat Pekerja Dosen dan Tenaga Kependidikan?



Kehadiran UU Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja menjadi awal revolusi kebangkitan pekerja di Indonesia. Mendengar kata serikat pekerja, mungkin yang ada dalam bayangan kita adalah butuh-buruh pabrik yang berdemo memperjuangkan hak-hak mereka, menuntut kenaikan upah minimum.
Serikat  Pekerja dimasa modern ini lebih sedikit menunjukkan posisi yang lebih elegan di mata hukum. Karena Serikat  Pekerja tidak hanya berbicara bagaimana buruh pabrik memperjuangkan hak-hak mereka akan tetapi Serikat  Pekerja semakin cerdas memperjuangkan hak-hak pekerja dengan ilmu, dialog dan media yang cerdas.  Kekuatan Serikat pekerja itu kuat dan sangat kuat bahkan di mata hukum. Pekerja yang sudah di dalam anggota akan bisa memperjuangkan hak-hak mereka sesuai dengan hukum Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. 
Ketakutan yang terbesar dari sebuah perusahaan adalah ketika permainan mulus mereka mempekerjakan karyawan dengan seenaknya mereka tapi terbentur dengan UU ini. Mulai dari upah di bawah UMR, tidak memberikan jaminan kesehatan, memberikan lembur yang tidak layak bayar, bahkan ada beberapa perusahan yang mengharuskan mempekerjakan karyawannya bekerja melebih jam yang telah ditetapkan bedasarkan undang-undang yang berlaku dengan alih-alih loyalitas. Ketakutan ini berlanjut ketika semua harus diproses oleh pihak terkait ketika semua tidak sesuai aturan. Maka tidak heran kita sering mendengarkan banyak sebagian perusahaan pimpinannya menghalang-halangi pembentukan serikat pekerja.
Ini hanya sebagai contoh saja, sebenarnya tidak ada masalah antara saya dengan perguruan tinggi tempat saya bekerja. Saya bekerja kurang lebih 2,5 tahun di perguruan tinggi tersebut. Suatu periode yang tergolong cukup ‘nyaman’ dan menunjukkan keadaan yang baik-baik saja dengan manajemen Yayasan perguruan tinggi tersebut.
Sebenarnya ketika masa kerja saya tepat satu tahun, sudah tercium bau-bau tidak sedap dari manajemen Yayasan dalam hal bagaimana mereka mengelola perguruan tinggi ini. Karena ini Yayasan maka otonomi mereka sangat tidak terbatas. Namun ternyata mereka terlalu jauh mendefiniskan otonomi ini sehingga masalah ketenagakerjaan juga mereka anggap adalah urusan pihak Yayasan. Tapi begitulah kenyataan di lapangan ketika menghadapi Yayasan yang egois dengan sebuah kepemilikannya sendiri sehingga seolah-olah mereka mempunyai kekuasaan tidak terbatas. 
Memang dari dulu saya masih belum begitu yakin ketika sebuah Yayasan bergerak dalam dunia pendidikan. Mana ada sekarang Yayasan yang benar-benar pure sosial membantu mencerdaskan anak bangsa. Kalau sudah mempertimbangkan profit untuk sebuah pendidikan maka sudah bisa dibayangkan sendiri, apa yang terjadi. Pendidikan tidak lagi berbicara bagaimana menciptakan generasi penerus bangsa akan tetapi bagaimana menciptakan kuantitas jumlah peserta didik untuk profit semata. 
Beginilah salah satu wajah pendidikan Indonesia. Rugi  rasanya kita berkoar-koar selama ini memperjuangkan pendidikan  agar lebih bagus lagi ketika di lapangan masih saja kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika keanehan terjadi. Perguruan tinggi sudah menjadi lahan untuk mencari laba sebanyak-banyaknya bagi sebagian pemilik Yayasan. Sebanyak mungkin mereka menerima mahasiswa. Tapi apakah mereka memikirkan kualitas dosennya. Dan apakah dosen dan tenaga kependidikan yang dipekerjakan juga benar-benar sudah sejahtera? Jangan-jangan masih dibawah UMK semua. Jangan-jangan ekpolitasi modern sudah mulai ada yaitu mengeksploitasi keilmuan dosen-dosen yang sudah menghabiskan ratusan juta sekolah tapi hanya dibayar sebungkus nasi kotak. 
Berbicara upah untuk seorang dosen saya sendiri akan sedikit tutup telinga, anggap saja tidak tahu dan mau tahu. Mempermasalahkan upah dosen Yayasan  maka itu akan berujung dengan kekecewaan dan rasa sakit hati. Begitu pula dengan tenaga kependidikan yang notabene memengang peranan penting dalam keberlangsungan operasional perguruan tinggi tersebut.  
Apakah dosen dan tenaga kependidikan yang bekerja pernah memegang uang segepok seperti dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi negeri dapatkan  setiap bulan? Beban kerja sama bahkan lebih banyak tapi kenapa isi kantong berbeda? Hak seseorang terbedakan akibat nasib yang tidak mendukungnya. 
Yayasan sekarang sudah keras hati. Hampir semua Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan tidak pernah ikhlas memberikan upah kepada dosen dan tenaga kependidikan yang telah berhasil menaikkan pamor universitas mereka. Pamor universitas didapatkan secara otentik oleh akreditasi dari BAN-PT. Mereka lebih senang menghabiskan pikiran mereka memikirkan berapa banyak omset Yayasan mereka dari mahasiswa yang masuk.
Apa yang terjadi apabila dosen yang mengajar di tempat mereka mogok semua? Apa yang terjadi apabila tenaga kependidikan tidak melaksanakan pekerjaannya secara maksimal karena saling cemburu? Apakah Yayasan tersebut akan senyam senyum duduk santai sambil mengipas hasil uang spp mahasiswa? Siapapun akan mengatakan TIDAK. Tapi, mengapa sering sekali kita dengar cerita-cerita miris ketika dosen maupun tenaga kependidikan hanya dibayar hanya cukup untuk membeli pulsa dan bensin setiap bulannya. Apakah salah ketika dosen sebagaitenaga pendidik dan kependidikan berkolaborasi membentuk serikat pekerja untuk memperjuangkan hak-hak normatif mereka?
Disinilah bentuk ketakutan Yayasan ketika serikat pekerja mempunyai kekuatan yang sama seperti mereka. Tapi jangan senang dulu, ketika dosen dan tenaga kependidikan cukup berani membentuk Serikat pekerja, yang harus kita persiapkan sebagai dosen dan tenaga kependidikan hanya 2 hal kemungkinan; di pecat atau di naikkan jabatan.  Sepertinya dan sudah pasti kemungkinan kedualah yang bakal terjadi, karena Yayasan takut. Yayasan tidak suka dengan orang yang sok hebat menjadi pahlawan di siang bolong hanya untuk mengganggu aktifitas mereka meraup uang dari mahasiswa dari jalan-jalan yang tidak benar. Yayasan tidak mau tahu apakah dosen dan staff  sejahtera atau tidak. Yayasan tidak ambil pusing ketika  karyawannya harus bekerja lembur yang tidak dibayar. Kata mereka simpel saja “kalau tidak mau kerja lagi, keluar saja”.
Serikat pekerja bukan pemberontak tapi sebagai mitra penguasaha dalam menjalankan usahanya. Kenapa sepertinya pengusaha sangat benci dengan kehadiran serikat pekerja di tempat mereka? Secara logika kita akan menyimpulkan adalah pengusaha yang salah akan sangat alergi menerima kehadiran serikat pekerja. Betapa tidak, serikat pekerja bisa menuntut hak-hak normatif mereka jika tidak sesuai dengan undang-undang. Kejadian ini yang tidak mau dialami oleh pihak Yayasan.
Perlu tidak dosen atau tenaga kependidikan membentuk Serikat Pekerja? Pertanyaan ini mungkin akan sedikit terkhususkan untuk dosen atau staff tenaga kependidikan Yayasan yang tidak mempunyai penghasilan sampingan setiap bulan.
Perguruan tinggi mempunyai pengembangan konsep Tridharma Perguruan Tinggi yang khusus pada bidang pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bagaimana bisa dosen mengajar dengan maksimal ketika disaat yang sama dia harus memikirkan keluarganya mau makan apa besok hari? 
          Tapi  saya bisa apa untuk merubah itu semua. Saya seorang staff biasa yang hanya bisa diam saja melihat Yayasan meraup untung kebanjiran mahasiswa, sedangkan dosen dan tenaga kependidikan perlu bekerja extra untuk tetap mempertahankan reputasi Perguruan Tinggi. Saya selama ini diam saja karena secara tidak langsung telah menjadi bagian orang-orang yang melihat kedhaliman, penindasan hak.  Kapan saya akan mengakhiri keadaan sebagai penonton? Biar waktu menjelaskan semuanya.

Thursday, July 16, 2015

hitsuke.blogspot.com

MUDIK... [antara] Silaturahmi dan Ajang Pamer



Sepanjang pengamatan saya dalam diam, telah terjadi pergeseran makna terhadap tradisi “MUDIK”  Menurut istilah, Mudik adalah kegiatan perantau / pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Kata mudik berasal dari sandi kata Bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.  Namun tradisi mudik lebaran kini tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi sudah menjadi ajang pamer keberhasilan materi. Mereka yang sukses dan berlimpah materi, memperlihatkan gengsi sebagai ekspresi wah, melampaui mereka yang kalah.  Perilaku pamer status sosial tersebut ditandai dengan pamer kendaraan, baju baru lengkap dengan pernak-pernik perhiasan dan lainnya.

Penampilan masyarakat yang mudik dengan memamerkan status sosial itu adalah untuk memperlihatkan kepada keluarga atau pada kalangan kerabat dan masyarakat bahwa status sosial mereka meningkat karena dinilai telah sukses di rantau.  Namun ironisnya, justru banyak penampilan mereka yang `kamuflase` atau mengelabui orang ditandai antara lain dengan membawa kendaraan pribadi (kendati dirental), baju baru dan lainnya.

Sebagai contoh, menjelang  lebaran  usaha persewaan (rental) mobil laris manis. Bahkan ada penyewa  yang tiap tahun selalu meminta agar mobil yang disewanya  warna catnya tidak diganti, jenis mobil tersebut harus sama. Permintaan sewa mobil dengan persyaratan demikian, katanya, penting untuk mengesankan mereka telah memiliki kendaraan sendiri sekaligus menjaga citra bahwa dirinya sukses dirantau.

Contoh lainnya, yang dirantau justru berbondong-bondong ke bank atau ke kantor pos mengirimkan wesel atau belanja lebaran untuk keluarga di kampung, kendati uang yang dikirim Rp 500 hingga Rp 1 juta . Perilaku ini juga memamerkan bahwa mereka telah sukses di rantau hingga berhasil mengirimkan belanja. Sebaliknya bagi orang di kampung pergi ke kantor pos untuk mengambil kiriman belanja lebaran tentu akan bangga dan menceritakan pada orang lainnya bahwa keluarganya dirantau telah sukses hingga berhasil mengirimkan uang

Dari beberapa pemaparan diatas tersirat bahwa kebiasaan mudik selama ini lumayan bergeser dari makna awalnya, yakni bersilaturahmi. Adanya perasaan gengsi atau tidak mau kalah dengan kesuksesan yang diraih saudara atau teman di kampung halaman bisa menjadi salah satu pemicu bahwa persepsi mudik selama ini selalu identik dengan ajang pamer kesuksesan, meskipun tentunya masih banyak pula para pemudik lainnya yang memang mudik karena rindu dengan sanak keluarga dan lebih mementingkan silaturahmi daripada sekedar menjadi ajang pamer semata. 

Tradisi mudik seperti sekarang inilah yang terkadang membuat saya malas untuk ikut mudik merayakan lebaran bersama dengan keluarga besar. Disamping saya belum punya apa-apa yang bisa dibanggakan dihadapan keluarga, melihat beberapa saudara yang selalu dengan gadget barunya, tablet, ipad keluaran terbaru sedangkan saya tidak pernah mengganti handphone jika handphone saya tidak rusak terkadang menjadi beban psikis tersendiri.  

Akan lebih baik bagi kita bersama jika mudik yang pada awalnya memiliki tujuan mulia, yakni untuk saling bersilaturahmi kembali diarahkan ke tujuan semula. Para pemudik jangan lagi mempunyai pikiran bahwa mereka harus membawa sesuatu yang baru setiap kali mudik. Melainkan para pemudik haruslah bersikap apa adanya saja, apabila ada kelebihan finansial tidak salahnya membawakan oleh-oleh buat keluarga yang nantinya bisa membuat mereka senang. Tetapi apabila keadaan finansial kurang menguntungkan nggak usah deh memaksakan diri, pastinya keluarga di desa juga akan mengerti dan mereka sebenarnya juga hanya ingin berkumpul dan bersilaturahmi di hari raya Idul Fitri. 

Keluarga di kampung halaman bakal masih mengakui kita sebagai keluarga kok meskipun datang tidak "bermewah-mewah"

Friday, September 19, 2014

hitsuke.blogspot.com

MAHAL



Jika Anda membawa guci dari dinasti Ming yang mahal itu, apakah Anda akan membawanya dengan cara pegang yang sembarangan, tidak memperhatikan langkah Anda, dan melempar-lemparkannya ke udara? Tentu Jawabanyya Adalah TIDAK.
Kehati-hatian kita dalam membawa sesuatu, ditentukan oleh penghargaan kita terhadap yang kita bawa.

Ketika  saya mengantarkan adik saya untuk interview di sebuah perusahaan di Jakarta, saya cukup dibuat tercengang, takjub dan merasa super. (agak lebay si kedengarannya...)
Kami (baca : saya dan Adik) naik kereta Argo Sindoro keberangkatan pukul 06.00 untuk efisiensi waktu. Sampai di Jakarta sekitar pukul 12.00 wib. Karena takut terlambat, kami menuju tempat interview dahulu tanpa mengindahkan perut kami yang keroncongan.

Sampai di lokasi kami merasa agak sedikit beruntung karena tempat interview berada di atas mall yang tentunya ada yang namanya pujasera. Kami memutuskan untuk makan pagi plus siang karena kami ditolak oleh Perusahaan dikarenakan datang terlalu cepat dari jam janjian (maklum, saya kan miss ontime :-) ) 

Ketika membuka menu, kami agak sedikit kebingungan karena pertama, menu yang ada tidak kami kenal tapi tetap halal pastinya, kedua karena harga ter'murah' yang tertera pada menu tersebut adalah 70.000 rupiah. Dengan berat hati akhirnya kami memutuskan untuk memilih menu berharga 70.000 rupiah tersebut dengan pertimbangan kami doyan sehingga apa yang tersaji habis dimakan tidak tersisa. Kami merasa sayang dan eman-eman jika makanan yang terkesan 'mahal' itu terbuang.  Kami makan pukul 13.30 wib..

Setelah makan kami menuju ke tempat interview. Setelah selesai, kami langsung menuju ke stasiun Gambir untuk mengejar kereta dengan keberangkatan pukul 17.00 wib. Apa yang semula telah kami rencanakan yaitu makan Hokben sebelum pulang batal karena masih dan sangat kenyang. Akhirnya kami merubah rencana. Ketika sampai Semarang nanti,berhubung mobil kami terparkir dengan cantiknya di Stasiun Tawang, kami berenvana akan langsung menuju KFC Pandanaran yang buka 24 jam. Tapi rencana itu batal karena pukul 01.00 wib dini hari, turun dari kereta, kami merasa masih kenyang.

Saya sempat menganalisa, ternyata ada harga ada kualitas. Biasanya kami kalo makan spageti seharga 7.500 rupiah sampai 15.000 rupiah beberapa jam terasa lapar lagi. Ini dari pukul 13.30 sampai pukul 01.00 wib belum merasa lapar (atau mungkin nafsu makan kami lain dengan Anda ^_^ )

Sembari  merebahkan badan, saya sempat berfikir 70.000 rupiah untuk satu piring spagetty terasa amatlah mahal bagi kami, karena penghasilan kami kecil. Tetapi itu akan terasa biasa saja untuk mereka yang berpenghasilan 'lebih'

Membaca quotes Mario Teguh membuat saya teringat oleh ucapan dua orang teman saya :
Teman pertama mengatakan saya MAHAL. Dahulu saya sempat 'sakit hati' sekali dikatakan demikian, dan sempat berhenti untuk mengejar karir maupun penghasilan yang "Lebih". Tapi itu semua sirna ketika bertemu dengan teman kedua saya yang mengatakan 'Pria yang Sukses Tidak Akan Takut Untuk Mendekati Wanita Sukses'

Seperti biasa saya selalu menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lain sesuai dengan analisa positif saya sendiri, yang dapat menguatkan dan memotivasi diri saya sendiri. Saya berprasangka positif terhadap teman pertama yang mengatakan saya "Mahal". Mungkin dimata teman saya itu, saya seorang wanita yang sukses dan dia tidak dapat mengimbangi saya, sehingga dia mengatakan seperti itu untuk membunuh motivasi saya. Atau mungkin dia tahu bahwa dengan keuletan dan kegigihan saya mewujudkan semua impian saya, di masa depan saya akan menjadi seorang wanita 'Mahal'

Teman kedua saya selalu memotivasi saya untuk lebih kuat pada Pembawaan. Karena dia tahu saya Labil dan Minder. Pembawaan yang anggun, tertata dan santun membuat kita lebih dihargai. Anggun karena kita tahu  kita ingin dilihat orang sebagai orang yang di hargai. Santun, kita ingin orang lain merasa di hormati. Jika kita bisa membawa diria untuk menghormati orang lain maka pantas diri kita di hormati oleh orang lain. Membawa diri sebagai orang yang pantas di bayar mahal