Sunday, May 29, 2016

hitsuke.blogspot.com

Surat Cinta Untuk Masa Laluku

Untukmu dimanapun sekarang berada. Aku tak tahu kenapa kamu tiba-tiba hadir dibenakku. Dan seperti biasa, kehadiranmu selalu membuatku menangis. Taukah kamu, bahwa sesungguhnya kamu adalah halaman buku paling menarik seperti halaman buku Tere Liye, Dee Lestari atau Andrea Hirata yang selalu ingin aku kunjungi, ku baca, ku resapi lalu berulang-ulang berhasil mendoktrin pikiranku. 
 
Sejenak aku tercekat, seperti apakah posisiku dihatimu sekarang dan saat itu? Sebagai kekasih kah? Sebagai Adikkah? Sebagai Kakakkah atau sebagai RIP (Rest In Peace) 
 
Apapun itu, terima kasih telah bersedia hadir dalam hidupku, mengisi dan mewarnai hariku yang sempat kelabu. Meskipun ketika bersamamu tak bisa ku pungkiri hanya air mata yang akhirnya menghiasi. Kamu bahkan tak kan pernah tau betapa kamulah yang telah menghancurkan semua prinsip dan egoku.
 
Aku mungkin aku terlalu berlebihan dengan satu kisah yang pernah kita ukir. Sudah ku coba untuk mengikhlaskan dan melupakan mu. Dengan tingkat kesibukan yang telah aku jalani selama 4 tahun ini hampir berhasil menjauhkanmu tapi tidak berhasil melupakanmu Karena, berbagai pesona yang mencoba menarik perhatianku belum ada yang bisa menandingimu. 
 
Terkadang terlintas engkau tiba-tiba datang meskipun hujan badai di luar sana hanya untuk mengusap air mataku. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Itu hanya terjadi dalam senetron romantis. This is Realita. 
 
Terima kasih telah menjauhiku, karena, dengan begitu, aku tau ada titik dimana kita pernah merasa dekat. Sangat dekat Walau itu. Dulu....... 
 
Jika kamu (mungkin) masih sempat, peduli atau bahkan sempat membaca postingan ini (Hey, dalam tahap ini, aku bukan sedang mengiba atau berusaha membuat hati mu gerimis. Bukan itu) Kenang aku sebagai seorang.... sebut saja sebagai masa lalu. Sebut saja sebagai wanita yang pernah kau ambil hati nya penuh-penuh, namun pada akhir nya, kau kembalikan lagi separuhnya saja. Hati ku masih belum kau kembalikan penuh-penuh. Dan separuh hati ini selalu berhasil memaksaku untuk menuliskan kata-kata bodoh ini untuk mu, separuh hati ini selalu berhasil membuat ku menitikkan sedikit saja air mata, jika kamu mulai berkelebatan lagi di pikiran ku.....Sedikit saja. 
 
Jika kini, di setiap bangun dan tidurmu aku yakin bukan lagi aku yang mampir di pikiranmu (mungkin dulu pun bukan aku) sangat tidak apa-apa. Tapi, Jangan pernah salahkan aku, Jika malam-malam dan lelapku, aku masih di hampiri mimpi yang sama. Mimpi tentang kisah kita berdua, bergulir, seperti nyata walau sebenarnya itu hanya berserakan di masa lalu yang kini susah payah aku ubah. Dan disana, aku selalu bertanya-tanya "Sampai kapan, hey Kamu?" 
 
Segala yang hilang, akan diganti dengan yang lebih baik.. Dan, Kamu sudah sampai pada titik itu. Tak apa jika kerabat, sahabat dan rekan mu menjadikan ku sebagai perbandingan. Bukankah sifat kita -manusia- adalah selalu membandingkan? Tak apa jika pada akhirnya bukan aku yang akan bergabung dalam silsilah dan foto keluargamu. Bukan kah itu bagian dari takdir? Dan skenario Tuhan yang selalu kita percayai hingga kini, adalah skenario yang terbaik? 
 
Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang ingin aku lontarkan. Mengapa kita mesti bertemu jika pada akhirnya kita tidaklah satu? Orang-orang disana selalu menjawab : "karena, kita harus bertemu orang yang tidak tepat, sebelum akhirnya bertemu orang yang tepat" . Jadi, baiklah. Setidaknya bisa kusimpulkan aku bukanlah orang yang tepat. Aku adalah persinggahan sementaramumu. Aku adalah ujian. Aku adalah masa lalu. 
 
Ketika kamu dan dia sedang berbahagia merencanakan piknik keluarga, aku masih sibuk sendiri. Sibuk akan masa lalu yang belum selesai. Hey, aku tidak menyalahkanmu.. Ini bukan pilihanku tapi ini takdirku. Namun, aku berjanji tidak akan lama lagi. Karena, aku percaya.. Tuhan sudah menyediakan pula Jodoh ku. Jodoh. Bukan pengganti mu. Yang akan mendekapku lama-lama. Hingga aku lupa. Hingga aku amnesia. Luka itu apa? Dunia kita tak lagi sama, mimpi kita sudah berbeda. 
 
Sebagai apapun aku dihatimu, terima kasih sudah mau peduli. Bahagia untuk mu. Selalu. 
 
*Inspirated Song Ratusan Purnama - Melly Goeslow dan Marthino Lio Ost AADC 2
hitsuke.blogspot.com

Makna Lagu "Andaikan Kau Datang Kembali"

Setiap lagu pasti punya cerita bagi pencipta maupun pendengarnya. Terkadang setiap lagu menyimpan kenangan tersendiri bagi pendengarnya. Kenangan disini bukan saja berarti liriknya mewakili perasaan atau kisah hidup kita namun bisa jadi kenangan yang tersebut adalah suasana pada saat lagu itu diputar berulang-ulang pada era atau masa tertentu. Misalnya ketika kita mendengar lagu "Kita"  dari Sheila On 7, pasti ingatan kita langsung tertuju ke era tahun 2000-an ketika lagu tersebut booming

Sebuah lagu yang tetap enak di dengar dan tidak membosankan adalah lagu-lagu ciptaan tahun 1980-an dimana pada era 2000-an telah berlabel "tembang kenanngan". Lagu Andaikan Kau Datang Kembali-nya Koes Plus yang dinyanyikan oleh Yuni Shara pun termasuk lagu yang masih easy listeing. Namun kita pasti tidak pernah menyangkanya jika lagu tersebut bukan hanya lagu percintaan yang cengeng melainkan lagu hikmah yang penuh makna seperti yang dituturkan oleh  Yok Koeswoyo di pengajian Kyai Kanjeng Cak Nun. 

Terlalu indah dilupakan
Terlalu sedih dikenangkan
Setelah aku jauh berjalan
Dan kau ku tinggalkan


Dunia ini begitu indah. Semakin jauh berjalan di dunia ini, kita semakin meninggalkan sang kholik, sang penciptanya. KAU pada lirik itu berarti Allah SWT sang pemberi nafas.

Betapa hatiku bersedih
Mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku
Engkau kan menunggu


Saat disepertiga malam kita merenungi, betapa karunia cinta serta kasih sayang sang Kholik masih tercurahkan, bahkan saat kita berbuat hina, berbuat dosa, bermaksiat. Dengan Rahman dan Rohimnya Allah tetap memberikan kenikmatan dalam hidup kita.

Andaikan kau datang kemari
Jawaban apa yang kan ku beri


Jika Allah mencabut nyawa kita saat ini, dan mengutus malaikat didalam kubur menanyai iman dan amal sholeh kita di dunia. (Sebagian umat Islam mengamalkan membacakan talqin saat menguburkan jenazah. Membacakan tuntunan jawaban atas pertanyaan Malaikat yang akan menemui di alam kubur setelah para pelayat pulang)

Adakah cara yang kau temui
Untuk kita kembali lagi


Ruh di alam kubur akan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya dahulu. Berandai-andai adakah jalan Allah atau cara Allah untuk mengulangi masa-masa lalu ? Untuk kita kembali lagi, untuk bisa merubah tingkah laku  yang buruk menjadi baik?

Bersinarlah bulan purnama
Seindah serta tulus cintanya


Bulan Purnama adalah simbol dari Rasul, simbol dari nabi, simbol dari para ulama, dan simbol dari segala sesuatu yang memantulkan cahaya cinta Allah. Penulis lagu itu mengharap kepada para ulama, kepada para pensyiar agama untuk tetap bersinar, untuk tetap memantulkan Nur dari Allah setulus-tulusnya, tanpa melihat apapun selain Allah.

Bersinarlah terus sampai nanti
Lagu ini...ku...akhiri


Tetap Istikhomah sampai menghadap Khusnul khotimah, in-syaa Allah.
Subhanallah........ Ternyata lagu ini memilik makna yang dalam sekali.  Semoga Allah swt menghadiahi akhir yang "khusnul khotimah" untuk kita semua. Aaamiiin Yaa Rabbal'Alamiiin.

Saturday, May 7, 2016

hitsuke.blogspot.com

Wanita Introvert Tidak Menyukai Sesuatu Yang Frontal

Berbicara mengenai Wanita, memang banyak sekali tipenya, tapi berdasar kepribadian hanya ada dua, introvert dan ekstrovert. Misterius, tertutup dan susah buat diajak hura-hura. Mungkin begitulah pandangan hampir kebanyakan orang ketika berhadapan dengan seorang introvert. Pria yang tak sengaja jatuh hati pada mereka jangan terlalu frontal dalam meng-eksplore keinginannya untuk mendekati wanita dengan tipe seperti ini karena akan membuat mereka menjauh dan illfeel

1.  Wanita introvert, tidak menyukai sesuatu yang Frontal. 
Wanita introvert lebih memilih mengenali calon pasangan dengan berteman lebih dahulu.  Jadi, lebih baik make it slow saja boys. Wanita introvert  kebanyakan tak pernah suka lelaki baru yang tiba-tiba datang dan mengutarakan maksudnya di depan. Mungkin cara itu berlaku bagi wanita ekstrovert, tapi wanita introvert  tak terbiasa blak-blakan dan sangat menghargai proses, dan pastikan semuanya berjalan serba pelan-pelan.  

Wanita introvert seringkali dikenal sebagai tipe yang sukar jatuh cinta, memang begitulah adanya. Walau ada sebagian yang mengaku mudah naksir atau menyukai lawan jenis, tapi jatuh cinta itu perihal berbeda. Tak ada batasan baginya perihal sampai kapan kalian menjalani tahapan ‘pertemanan’ dan kapan hubungan ini berlanjut ke jenjang yang lainnya. Ada yang hanya hitungan bulan, ada pula yang menahun. Bergantung kalian, secepat apa kalian membuatnya  merasa nyaman dan percaya.

Wanita introvert memang suka kalau diberi perhatian, apalagi secara penuh dan intensif, namun perhatian dan kepo berlebihan justru akan membuat risih. Alih-alih merasa diperhatikan, tapi malah membuat kami merasa diinterogasi. Misalnya nih di minggu-minggu pertama kamu whatsapp atau Line hanya dua kali sehari untuk menanyakan kabarnya. Di waktu selanjutnya intensitas berkirim pesan bisa ditambah, karena seorang introvert pada umumnya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan kedatangan orang baru. Kamu juga yang harus membuat batasan terkait apa-apa saja yang boleh dan tidak untuk ditanyakan pada masa awal perkenalan.

2.  Kenali dari Hobi
Biar  introvert, tapi dijaman yang serba teknologi ini, mereka nggak gaptek kok. Saya mewakili satu dari sekian ratus Wanita introvert punya beberapa akun sosial media.  Jadi, kalau kamu beneran niat, jadilah stalker di media sosial kami para Wanita introvert. Dari situ bakal ketahuan kok apa yang kami sukai, Mulai dari musik, film favorit, sampai bacaan yang sering kami baca. Bisa kamu cari tahu dan sedikit menganalisis lewat postingan di akun medsos kami. Dengan cara ini setidaknya kamu punya bekal saat mau mengajak kami berkomunikasi?

3. Tunjukkan Keseriusan dan Pengorbanan
Tunjukkan kalau kalian serius tertarik, tapi jangan frontal alias blak-blakan. Misalnya lagi nih, baru sehari dua hari kenal eh langsung ngajak makan atau nonton berdua. Kan ngeri bro. Jangaaaan…. Ajak chat dulu, ketemu ya cuma jangan berdua. Kalau justru dia yang ajak temen atau keluarganya, kamu ya mau aja. Sebab, dengan mau berkenalan dengan kawan atau keluarga, kami bisa menganggapmu serius terhadap kami.

Jangan menyerah menghadapi Kami, karena disinilah level kesabaranmu akan diuji. Tunjukkan keseriusanmu dengan adanya konsistensi. Percayalah, lama-lama kami para wanita intovert akan sadar kok kalau kamu memang tak main-main dengan kami.  Satu hal lagi, wanita intovert juga akan luluh kalau kamu menunjukkan ‘pengorbanan’ tanpa adanya kesan menyombongkan tentunya. Dengan datang saat hari spesial kami misalnya, padahal ada jarak sekian ratus kilometer yang membentang. Atau rela mengantar kami karena menurutmu sudah terlampau malam untuk pulang sendirian. Sesekali sah-sah saja kok menawarkan bantuanmu untuk kami.

Proses lama itu relatif, bergantung kapan kami bisa percaya. Nah, percaya itu berasal dari kapan rasa nyaman sudah kami dapat. Ketika kami sudah berani bercerita apa saja kepadamu, dan setelahnya perasaan kami jadi lega, itu artinya kami percaya. Tenang, ketika kami bercerita, kamu nggak perlu kudu jadi mahluk solutif kok. Asal kamu bisa pegang rahasia, disitulah kami merasa aman dan terjaga. Tak hanya itu, kami juga akan melihat reaksimu ketika kami bercerita. Apa kamu saja yang menuntut kami terbuka, tapi tidak sebaliknya, atau bagaimana. Kalau kamu pun berangsur terbuka, berarti kan kita sama-sama percaya, dan itu artinya kami juga punya hati kepadamu. Kami siap untuk ke jenjang selanjutnya kok.

Sunday, January 17, 2016

hitsuke.blogspot.com

Perlukah Serikat Pekerja Dosen dan Tenaga Kependidikan?



Kehadiran UU Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja menjadi awal revolusi kebangkitan pekerja di Indonesia. Mendengar kata serikat pekerja, mungkin yang ada dalam bayangan kita adalah butuh-buruh pabrik yang berdemo memperjuangkan hak-hak mereka, menuntut kenaikan upah minimum.
Serikat  Pekerja dimasa modern ini lebih sedikit menunjukkan posisi yang lebih elegan di mata hukum. Karena Serikat  Pekerja tidak hanya berbicara bagaimana buruh pabrik memperjuangkan hak-hak mereka akan tetapi Serikat  Pekerja semakin cerdas memperjuangkan hak-hak pekerja dengan ilmu, dialog dan media yang cerdas.  Kekuatan Serikat pekerja itu kuat dan sangat kuat bahkan di mata hukum. Pekerja yang sudah di dalam anggota akan bisa memperjuangkan hak-hak mereka sesuai dengan hukum Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. 
Ketakutan yang terbesar dari sebuah perusahaan adalah ketika permainan mulus mereka mempekerjakan karyawan dengan seenaknya mereka tapi terbentur dengan UU ini. Mulai dari upah di bawah UMR, tidak memberikan jaminan kesehatan, memberikan lembur yang tidak layak bayar, bahkan ada beberapa perusahan yang mengharuskan mempekerjakan karyawannya bekerja melebih jam yang telah ditetapkan bedasarkan undang-undang yang berlaku dengan alih-alih loyalitas. Ketakutan ini berlanjut ketika semua harus diproses oleh pihak terkait ketika semua tidak sesuai aturan. Maka tidak heran kita sering mendengarkan banyak sebagian perusahaan pimpinannya menghalang-halangi pembentukan serikat pekerja.
Ini hanya sebagai contoh saja, sebenarnya tidak ada masalah antara saya dengan perguruan tinggi tempat saya bekerja. Saya bekerja kurang lebih 2,5 tahun di perguruan tinggi tersebut. Suatu periode yang tergolong cukup ‘nyaman’ dan menunjukkan keadaan yang baik-baik saja dengan manajemen Yayasan perguruan tinggi tersebut.
Sebenarnya ketika masa kerja saya tepat satu tahun, sudah tercium bau-bau tidak sedap dari manajemen Yayasan dalam hal bagaimana mereka mengelola perguruan tinggi ini. Karena ini Yayasan maka otonomi mereka sangat tidak terbatas. Namun ternyata mereka terlalu jauh mendefiniskan otonomi ini sehingga masalah ketenagakerjaan juga mereka anggap adalah urusan pihak Yayasan. Tapi begitulah kenyataan di lapangan ketika menghadapi Yayasan yang egois dengan sebuah kepemilikannya sendiri sehingga seolah-olah mereka mempunyai kekuasaan tidak terbatas. 
Memang dari dulu saya masih belum begitu yakin ketika sebuah Yayasan bergerak dalam dunia pendidikan. Mana ada sekarang Yayasan yang benar-benar pure sosial membantu mencerdaskan anak bangsa. Kalau sudah mempertimbangkan profit untuk sebuah pendidikan maka sudah bisa dibayangkan sendiri, apa yang terjadi. Pendidikan tidak lagi berbicara bagaimana menciptakan generasi penerus bangsa akan tetapi bagaimana menciptakan kuantitas jumlah peserta didik untuk profit semata. 
Beginilah salah satu wajah pendidikan Indonesia. Rugi  rasanya kita berkoar-koar selama ini memperjuangkan pendidikan  agar lebih bagus lagi ketika di lapangan masih saja kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika keanehan terjadi. Perguruan tinggi sudah menjadi lahan untuk mencari laba sebanyak-banyaknya bagi sebagian pemilik Yayasan. Sebanyak mungkin mereka menerima mahasiswa. Tapi apakah mereka memikirkan kualitas dosennya. Dan apakah dosen dan tenaga kependidikan yang dipekerjakan juga benar-benar sudah sejahtera? Jangan-jangan masih dibawah UMK semua. Jangan-jangan ekpolitasi modern sudah mulai ada yaitu mengeksploitasi keilmuan dosen-dosen yang sudah menghabiskan ratusan juta sekolah tapi hanya dibayar sebungkus nasi kotak. 
Berbicara upah untuk seorang dosen saya sendiri akan sedikit tutup telinga, anggap saja tidak tahu dan mau tahu. Mempermasalahkan upah dosen Yayasan  maka itu akan berujung dengan kekecewaan dan rasa sakit hati. Begitu pula dengan tenaga kependidikan yang notabene memengang peranan penting dalam keberlangsungan operasional perguruan tinggi tersebut.  
Apakah dosen dan tenaga kependidikan yang bekerja pernah memegang uang segepok seperti dosen dan tenaga kependidikan perguruan tinggi negeri dapatkan  setiap bulan? Beban kerja sama bahkan lebih banyak tapi kenapa isi kantong berbeda? Hak seseorang terbedakan akibat nasib yang tidak mendukungnya. 
Yayasan sekarang sudah keras hati. Hampir semua Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan tidak pernah ikhlas memberikan upah kepada dosen dan tenaga kependidikan yang telah berhasil menaikkan pamor universitas mereka. Pamor universitas didapatkan secara otentik oleh akreditasi dari BAN-PT. Mereka lebih senang menghabiskan pikiran mereka memikirkan berapa banyak omset Yayasan mereka dari mahasiswa yang masuk.
Apa yang terjadi apabila dosen yang mengajar di tempat mereka mogok semua? Apa yang terjadi apabila tenaga kependidikan tidak melaksanakan pekerjaannya secara maksimal karena saling cemburu? Apakah Yayasan tersebut akan senyam senyum duduk santai sambil mengipas hasil uang spp mahasiswa? Siapapun akan mengatakan TIDAK. Tapi, mengapa sering sekali kita dengar cerita-cerita miris ketika dosen maupun tenaga kependidikan hanya dibayar hanya cukup untuk membeli pulsa dan bensin setiap bulannya. Apakah salah ketika dosen sebagaitenaga pendidik dan kependidikan berkolaborasi membentuk serikat pekerja untuk memperjuangkan hak-hak normatif mereka?
Disinilah bentuk ketakutan Yayasan ketika serikat pekerja mempunyai kekuatan yang sama seperti mereka. Tapi jangan senang dulu, ketika dosen dan tenaga kependidikan cukup berani membentuk Serikat pekerja, yang harus kita persiapkan sebagai dosen dan tenaga kependidikan hanya 2 hal kemungkinan; di pecat atau di naikkan jabatan.  Sepertinya dan sudah pasti kemungkinan kedualah yang bakal terjadi, karena Yayasan takut. Yayasan tidak suka dengan orang yang sok hebat menjadi pahlawan di siang bolong hanya untuk mengganggu aktifitas mereka meraup uang dari mahasiswa dari jalan-jalan yang tidak benar. Yayasan tidak mau tahu apakah dosen dan staff  sejahtera atau tidak. Yayasan tidak ambil pusing ketika  karyawannya harus bekerja lembur yang tidak dibayar. Kata mereka simpel saja “kalau tidak mau kerja lagi, keluar saja”.
Serikat pekerja bukan pemberontak tapi sebagai mitra penguasaha dalam menjalankan usahanya. Kenapa sepertinya pengusaha sangat benci dengan kehadiran serikat pekerja di tempat mereka? Secara logika kita akan menyimpulkan adalah pengusaha yang salah akan sangat alergi menerima kehadiran serikat pekerja. Betapa tidak, serikat pekerja bisa menuntut hak-hak normatif mereka jika tidak sesuai dengan undang-undang. Kejadian ini yang tidak mau dialami oleh pihak Yayasan.
Perlu tidak dosen atau tenaga kependidikan membentuk Serikat Pekerja? Pertanyaan ini mungkin akan sedikit terkhususkan untuk dosen atau staff tenaga kependidikan Yayasan yang tidak mempunyai penghasilan sampingan setiap bulan.
Perguruan tinggi mempunyai pengembangan konsep Tridharma Perguruan Tinggi yang khusus pada bidang pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bagaimana bisa dosen mengajar dengan maksimal ketika disaat yang sama dia harus memikirkan keluarganya mau makan apa besok hari? 
          Tapi  saya bisa apa untuk merubah itu semua. Saya seorang staff biasa yang hanya bisa diam saja melihat Yayasan meraup untung kebanjiran mahasiswa, sedangkan dosen dan tenaga kependidikan perlu bekerja extra untuk tetap mempertahankan reputasi Perguruan Tinggi. Saya selama ini diam saja karena secara tidak langsung telah menjadi bagian orang-orang yang melihat kedhaliman, penindasan hak.  Kapan saya akan mengakhiri keadaan sebagai penonton? Biar waktu menjelaskan semuanya.

Thursday, July 16, 2015

hitsuke.blogspot.com

MUDIK... [antara] Silaturahmi dan Ajang Pamer



Sepanjang pengamatan saya dalam diam, telah terjadi pergeseran makna terhadap tradisi “MUDIK”  Menurut istilah, Mudik adalah kegiatan perantau / pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Kata mudik berasal dari sandi kata Bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.  Namun tradisi mudik lebaran kini tidak lagi sekadar ajang silaturahmi, tetapi sudah menjadi ajang pamer keberhasilan materi. Mereka yang sukses dan berlimpah materi, memperlihatkan gengsi sebagai ekspresi wah, melampaui mereka yang kalah.  Perilaku pamer status sosial tersebut ditandai dengan pamer kendaraan, baju baru lengkap dengan pernak-pernik perhiasan dan lainnya.

Penampilan masyarakat yang mudik dengan memamerkan status sosial itu adalah untuk memperlihatkan kepada keluarga atau pada kalangan kerabat dan masyarakat bahwa status sosial mereka meningkat karena dinilai telah sukses di rantau.  Namun ironisnya, justru banyak penampilan mereka yang `kamuflase` atau mengelabui orang ditandai antara lain dengan membawa kendaraan pribadi (kendati dirental), baju baru dan lainnya.

Sebagai contoh, menjelang  lebaran  usaha persewaan (rental) mobil laris manis. Bahkan ada penyewa  yang tiap tahun selalu meminta agar mobil yang disewanya  warna catnya tidak diganti, jenis mobil tersebut harus sama. Permintaan sewa mobil dengan persyaratan demikian, katanya, penting untuk mengesankan mereka telah memiliki kendaraan sendiri sekaligus menjaga citra bahwa dirinya sukses dirantau.

Contoh lainnya, yang dirantau justru berbondong-bondong ke bank atau ke kantor pos mengirimkan wesel atau belanja lebaran untuk keluarga di kampung, kendati uang yang dikirim Rp 500 hingga Rp 1 juta . Perilaku ini juga memamerkan bahwa mereka telah sukses di rantau hingga berhasil mengirimkan belanja. Sebaliknya bagi orang di kampung pergi ke kantor pos untuk mengambil kiriman belanja lebaran tentu akan bangga dan menceritakan pada orang lainnya bahwa keluarganya dirantau telah sukses hingga berhasil mengirimkan uang

Dari beberapa pemaparan diatas tersirat bahwa kebiasaan mudik selama ini lumayan bergeser dari makna awalnya, yakni bersilaturahmi. Adanya perasaan gengsi atau tidak mau kalah dengan kesuksesan yang diraih saudara atau teman di kampung halaman bisa menjadi salah satu pemicu bahwa persepsi mudik selama ini selalu identik dengan ajang pamer kesuksesan, meskipun tentunya masih banyak pula para pemudik lainnya yang memang mudik karena rindu dengan sanak keluarga dan lebih mementingkan silaturahmi daripada sekedar menjadi ajang pamer semata. 

Tradisi mudik seperti sekarang inilah yang terkadang membuat saya malas untuk ikut mudik merayakan lebaran bersama dengan keluarga besar. Disamping saya belum punya apa-apa yang bisa dibanggakan dihadapan keluarga, melihat beberapa saudara yang selalu dengan gadget barunya, tablet, ipad keluaran terbaru sedangkan saya tidak pernah mengganti handphone jika handphone saya tidak rusak terkadang menjadi beban psikis tersendiri.  

Akan lebih baik bagi kita bersama jika mudik yang pada awalnya memiliki tujuan mulia, yakni untuk saling bersilaturahmi kembali diarahkan ke tujuan semula. Para pemudik jangan lagi mempunyai pikiran bahwa mereka harus membawa sesuatu yang baru setiap kali mudik. Melainkan para pemudik haruslah bersikap apa adanya saja, apabila ada kelebihan finansial tidak salahnya membawakan oleh-oleh buat keluarga yang nantinya bisa membuat mereka senang. Tetapi apabila keadaan finansial kurang menguntungkan nggak usah deh memaksakan diri, pastinya keluarga di desa juga akan mengerti dan mereka sebenarnya juga hanya ingin berkumpul dan bersilaturahmi di hari raya Idul Fitri. 

Keluarga di kampung halaman bakal masih mengakui kita sebagai keluarga kok meskipun datang tidak "bermewah-mewah"