Wednesday, March 27, 2019

hitsuke.blogspot.com

Alasan kenapa Jadi Anak (dianggap) Orang Kaya itu tidak enak.

Jadi anak orang kaya? Wuih pasti hidupnya seneng banget, jauh dari penderitaan, selalu bahagia. Kebahagiaan bukanlah karena harta, tetapi karena hati. 


Saya menulis ini mungkin karena curhat colongan karena Saya tergolong orang yang agak introvet dan tidak mudah mengungkapkan isi hati kepada orang lain secara langsung. Atau mungkin juga karena bahasa tulisan Saya lebih halus daripada bahasa lisan Saya. Terserah bagaimana pembaca menyikapi. Beberapa tahun yang lalu Saya pun sempat menulis perasaan Saya ketika ada seseorang yang mengatakan Saya MAHAL ( https://minakoangel.blogspot.com/2014/09/mahal.html ) padahal Saya tidak dijual atau menjual diri lho.... hahahahahaha.....


Pengantarnya sudah cukup, sekaranng masuk ke topik curhatannya, kenapa si jadi anak (dianggap) Orang Kaya itu nggak enak. Disini Saya pake dalam kurung dianggap karena yang memberikan label 'Orang Kaya' pada orang tua adalah masyarakat sekitar, bukan Saya. Karena menurut Saya semua manusia itu sama dihadapan Tuhan, yang membedakan di dunia adalah 'bejo' sama 'ora bejo'. Dan Saya dan orang tua mungkin termasuk yang 'bejo' dalam hal materi. 

Ini lho alasan kenapa jadi anak (dianggap) orang kaya itu tidak enak

1. Harapan Tinggi Dari Keluarga
  • Semua orang dalam keluarganya terutama mami papinya adalah orang yang sukses di bidangnya, bahkan mereka rata-rata udah sukses di usia muda. Jadi wajar dong kalo ortu dan keluarga pengen dia juga sukses minimal sama dengan kesuksesan ortunya. 
  • Itu pasti jadi sesuatu yang membebani dan butuh kepercayaan diri dan usaha yang besar. Mereka merasa hidup nggak berarti kalau nggak sukses kayak mami papinya. 
Alhamdulillah Ayah dan Ibu Saya termasuk orang yang sukses di bidangnya. Jujur ini sangat membebani pikiran Saya. Seorang anak pasti dong berkiblat pada orang tuanya. Saat ini Saya merasa tidak dapat atau lebih tepatnya belum dapat menyamakan apa yang Saya raih dengan yang Ayah Ibu Saya raih (dalam hal ini mungkin berkaitan dengan prestise), meskipun teman-teman memandang Saya termasuk Wanita yang berpendidikan tinggi, berkarier bagus dan MAHAL (ahahahaha, entah kenapa Saya masih sakit hati dikatain MAHAL) namun Saya merasa Saya masih bukan apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Mereka Saja yang Salah menilai.

2. Kurang dikenali secara Pribadi
  • Orang-orang pasti lebih kenal dirinya sebagai anak dari Bapak ato Ibu S yang super kaya di kampung, yang mobilnya 17 dan punya banyak perusahaan. Dia selalu berada di bayang-bayang ortunya yang kaya.
  • Apapun yang dilakuinnya pasti dianggap bakalan mudah wong anak orang kaya kok! Padahal bisa saja itu karena kerja kerasnya sendiri dan gak ada campur tangan ortunya. Tapi orang mana mau tau itu? Kalo pun dijelasin orang juga gak bakalan percaya.
That's Right. Ini pernah Saya alami ketika Saya berada di sebuah Kota kecil, dimana ibarat daun jatuh pun seantero kota bakal tahu. Alhamdulillah nama Ayah Ibu Saya termasuk diperhitungkan di sana. Itu sebabnya Saya tidak mau berkarir di Kota tersebut dan memilih menetap di kota besar, kota tempat kelahiran Saya setelah lulus kuliah, padahal Saya sempat membuka usaha kecil-kecilan lho di Kota X yang akhirnya Saya tinggalkan karena Saya ingin dikenal sebagai Saya bukan sebagai putra Bapak S Ibu E.

3. Susah mengukur keikhlasan Mereka yang dekat dengannya
  • Anak orang kaya udah terkenal banyak duit dan harusnya murah hati karena punya cukup banyak untuk dibagikan. Temen-temen yang ada di sekitar mereka jadi susah buat ngukurnya. Termasuk kalo ada yang berusaha jadi pacar. Susah ngukur motivasinya. Apa beneran suka atau suka duitnya aja. 
  • Mereka ini juga pengen disukai dan dicintai sebagai pribadi sebagaimana mereka adanya, terlepas dari uang yang ada di kantongnya. Tapi kita semua suka gak bisa ngebedain hal itu bukan? 
That's RightIni kenapa Saya selalu curiga pada kepada teman-teman Pria yang mendekati dan ingin menjadikan Saya sebagai pacar. Ini pula sebabnya Saya lebih memilih menetap di kota besar tempat kelahiran Saya dan pernah menolak fasilitas yang akan diberikan pada Saya. Cuma mau lihat siapa yang tulus dan siapa yang modus. 

4. Temen ngarep dibayarin.
  • Dimanapun dia berada dan ketemu temen-temen, dia suka bingung jika harus selalu ngebayarin belanjaan atau makan mereka. Dia seolah kas berjalan yang harus selalu siap dengan duit banyak, buat bayarin temen-temennya. Belum lagi barisan orang yang selalu minta traktiran, minta dibeliin oleh-oleh, minta dikasi hadiah, minta dibeliin inilah itulah.. padahal mereka ini juga seneng kalo ada yang traktir.
Ini kenapa Saya tidak pernah memulai 'mengajak jalan' teman-teman. Kalau Saya 'diajak' ayo.. ayo.. saja. Karena mohon maaf (bukan bermaksud menyinggung atau su'udzon), teman-teman di lingkungan Saya (terutama perempuan, laki juga ada tapi dikit) setiap Saya ajak selalu bilang 'bayari...' Kan Saya jadi males, padahal kalau Saya yang diajak Saya selalu berusaha merogoh kocek sendiri. Mereka pikir Saya bank apa, selalu ada uang huh...!!!

5. Orang pikir, Kaya berarti nggak pernah punya masalah
  • Anak orang kaya haram hukumnya buat galau dan susah, karena kaya itu identik dengan kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan, pokoknya gak boleh ada kata susah dalam kamusnya. Kenyataannya mereka ini juga manusia biasa kayak kamu dan saya, yang punya masalah. Meski punya banyak uang, kadang uang gak bisa nyelesein semua masalahnya. 
  • Saat mereka lagi galau semua orang gak percaya, seolah galau itu hanya dibuat-buat dan masalahnya juga diada-adakan. Apa sih yang harus digalauin orang kaya? Kan semua udah disediain?
Saat Saya galau karena lagi nggak punya uang karena lagi nganggur atau baru saja resign, teman-teman pasti mengatakan masa kamu nggak punya uang? kan naikmu mobil? Hellow.... apa iya mobil bisa jalan sendiri tanpa bensin? Untuk beli bensin memangnya bisa pake senyum, kan ya harus pake uang. Dapat uang darimana jika posisi tidak bekerja?
Kan online shop mu jalan. Heloww.... seberapa si pendapatan dari jualan itu. Buat beli bensin sekali saja langsung habis. Atau ketika Saya meminta lowongan pekerjaan pada teman, pasti pada bilang, aduh ga berani bayar direktur. Sepertinya mereka semua perlu ditutur dengan pitutur jaa kalau 'urip iku sawang sinawang, ojo mung nyawang sing kesawang.'

Jadi anak (dianggap) orang Kaya juga sering dibuat merasa bersalah, begitu banyak kecemburauan karena seperti saya bilang tadi kebetulan alias 'bejo' lahir di keluarga yang Alhamdulillah berkecukupan. Banyak kalimat-kalimat kecemburuan bahkan sampai dikatain MAHAL yang sering Saya dengar seperti, "kamu pasti nggak pernah ngerasain susahnya cari duit buat kuliah", "kalau aku jadi kamu aku pasti....bla..bla...bla.."

Hellow... Stop menjudge. Saya tidak pernah meminta Tuhan untuk dilahirkan di keluarga yang (dianggap) Kaya. Tuhan yang mentakdirkannya. Satu hal lagi, kaya itu bukan berarti bisa membeli segalanya. Justru orang kaya itu sangat berhati-hati mengeluarkan uangnya, bukan asal belanja, bukan asal memberi. Bukannya pelit lho ya.... Karena bagi mereka bagaimana uang yang mereka punya bisa diputar untuk menghasilkan yang lebih banyak. Sering ada di medsos-medsos, perbedaan orang Kaya dan yang pura-pura Kaya kan. Nah baca dulu deh....!!! 


Sunday, July 8, 2018

hitsuke.blogspot.com

Saya Resign Sebelum Mendapat Pekerjaan Pengganti. Ternyata Pengalaman Ini yang Saya Dapatkan

 Kebaikan yang didapati saat resign sebelum dapat pekerjaan pengganti

Teman / Kerabat  (TK): ​Hey, katanya kamu resign? Emang habis ini mau kemana?​​​
Saya (S) : Hehehe...... Iya nih, belum tahu mau kemana. Belum mulai apply-apply lagi. Ada Tawaran?
​T : Ngajar aja rak wes, jadi Dosen.
​K : Serius? Terus kenapa resign kalau belum dapat pengganti? Mendingan nunggu dulu aja sambil nyari-nyari. Lagian disitu kan sudah enak, ngapain resign segala.

​Bagi penganut paham "yang pasti-pasti saja" mungkin ​​​​​penggalan percakapan di atas sangat asing dan tidak pernah dialami. Namun bagi yang mengikuti  prinsip ​"yang penting ​RESIGN ​dulu, lain-lain pikir keri​​ alias dipikir nanti belakangan" ​tentunya ​​​situasi tersebut sangat familier. Ditambah lagi jika Kita resign pas sebulan atau dua bulan mendekati lebaran. Pasti akan tambah pernyataan, "kenapa nggak habis lebaran aja, biar dapat THR dulu" 

Saya kebetulan termasuk yang golongan kedua. Banyak orang terdekat heran dan terlongo heran saat Saya bilang belum punya pekerjaan lain. Padahal ini bukan kali pertama Saya ​RESIGN sebelum dapat pekerjaan pengganti. Tetapi memang ini pekerjaan terlama Saya dengan posisi dan jobdisk yang lumayan membuat orang tidak percaya Saya BISA dengan mudah memutuskan RESIGN sebelum dapat pekerjaan pengganti. Mungkin herannya orang terdekat sama dengan heran Saya yang sering bertanya-tanya tentang konsep jodoh kali ya. "KOK BISA?"​​ 

Banyak tanggapan pro dan kontra Saya terima saat akhirnya Saya memutuskan untuk TETAP RESIGN meski belum menemukan pekerjaan pengganti. Ada yang pura-pura takjub mengagumi keberanian (atau kenekatan?) Saya. Ada pula yang menganggap Saya gegabah, sombong, pongah, mudah menyerah dan bodoh. (Magister lho, dianggap bodoh hehehe....). Tak jarang mereka menyelipkan beberapa nasehat bahwa lelah dan jenuh dengan pekerjaan itu hal biasa, bergesekan dengan teman kerja itu hal biasa. Tidak seharusnya sampai membuat Saya nekat keluar tanpa rencana yang matang. 

RESIGN tanpa pekerjaan pengganti memang penuh resiko.  Jujur saja, predikat PENGANGGURAN itu memang menyeramkan. Apalagi Saya tidak tahu kapan akan kembali mendapat pekerjaan. Memang sebelum RESIGN sudah ada yang melirik Saya, tetapi dengan berbagai pertimbangan Saya putuskan untuk tidak mengambil kesempatan tersebut. Saya tidak ingin timbul prasangka ada kemelut atau politik di tempat kerja Saya sebelumnnya sehingga Saya memilih tempat lain dengan tawaran posisi dan keahlian yang sama. Beberapa kali RESIGN, Saya mempunyai prinsip bahwa Saya tidak akan masuk ke lingkungan yang sama dengan lingkungan kerja sebelumnya. Misalnya Saya resign dari pabrik, maka Saya tidak akan menerima tawaran kerja atau melamar di Pabrik lagi dengan posisi yang sama. Saya selalu berprinsip, 'Jangan pernah mau punya pekerjaan yang sama selama mungkin. Harus ada peningkatan dan perkaya skill, cari peluang meskipun harus loncat keluar.'

Beberapa kali RESIGN sebelum punya pekerjaan pengganti membuat Saya sangat paham beberapa hal ini : 

  1. Setiap keputusan sudah mengalami pertimbangan yang panjang. Meski diragukan, Saya merasa perlu mengapresiasi keputusan ini.
​Hanya Saya yang tahu kegalauan apa yang diri ini alami setiap kali pulang ​​​ke rumah dengan tubuh lelah. Hanya Saya yang tahu bagaimana akhir pekan menjadi penghiburan yang terindah setelah enam hari mengalami tekanan. Hanya Saya yang tahu situasi yang Saya rasakan di tempat kerja Saya, dan hanya Saya yang tahu, berapa lama batin Saya bergolak, bertanya pada diri sendiri benarkah keputusan yang Saya ambil ini.

Biar saja orang bilang Saya sembrono, gegabah, pongah dan sombong. Satu yang Saya tahu, keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan atau pergulatan atas segala kebimbangan. Karena itu, Saya merasa perlu untuk mengapresiasi diri sendiri (lebih tepatnya menghibur diri dan membela diri). Butuh keberanian besar untuk mengantarkan surat RESIGN ke meja atasan. Apalagi jika atasan Kita itu sangat sangat baik dan loyal dengan Kita sebagai bawahannya.  

2.  Saya memang harus berpikir "Mau apa sekarang" setiap pagi. 

Lalu apakah hidup Saya damai-damai saja setelah berganti status sebagai "Pengacara" alias Pengangguran tanpa acara? Jelas tidak. Saya masih harus menjawab pertanyaan maha sulit "​sekarang dimana?"​. Setelah RESIGN, Saya harus segera menentukan langkah selanjutnya. Karena bagaimanapun menjadi pengangguran terlalu lama bukan tujuan Saya. Namun sekarang, dengan ketiadaan bebean deadline pekerjaan dan telepon-telepon atasan yang menagih pekerjaan, Saya bisa lebih fokus untuk​​​ menentukan mau apa Saya setelah ini. Saya bisa ​browsing-browsing lowker​ tanpa sembunyi-sembunyi. Saya bisa mendatangi panggilan ​interview​ atau seminar-seminar untuk meningkatkan ​skill ​ tanpa ​​​​​​​​​perlu mengarang sakit atau ada keperluan keluarga untuk bisa hadir.

3. ​Melepaskan diri dari sesuatu butuh jeda untuk menenangkan diri. "Istirahat" dulu di rumah membuat Saya bisa berpikir lebih jernih
Apakah Saya pernah menyesali keputusan Saya? Terkadang, IYA. Apalagi jika dikaitkan dengan ​prestise​, keinginan untuk nonton bioskop atau sekedar nongkrong makan di cafe sementara uang di dompet kian tipis. Namun satu hal yang saya pahami, sembari mencari peluang baru, ini adalah waktu bagi Saya untuk memanjakan diri. Mungkin menyempatkan diri untuk piknik bersama keluarga ke tempat-tempat seru yang selama ini cuma angan-angan saja. Atau sekedar makan malam bersama keluarga mengganti waktu yang selama ini sempat hilang dengan banyaknya pekerjaan. Atau menyalurkan hobbi Saya menulis dan membaca. Hal-hal sederhana semacam itu sudah cukup memberi Saya ruang baru untuk bisa berpikir jernih.

4. Tak punya penghasilan dari pekerjaan tetap memaksa Saya untuk lebih kreatif dan ​ubet. ​Dan ternyata bisa juga Saya begini.

​​​​​​​​Saya adalah  aktor dari film yang Saya sutradarai. Meskipun rejeki, jodoh dan maut telah diatur, namun rejeki itu seperti jodoh yang harus dijemput. Tidak bisa Kita hanya duduk manis kemudian ​simsalabim ​dapat uang segepok. Meskipun banyak kenyataan yang tak sejalan sengan rencana​​​, tapi Saya tidak mau terjebak dalam hidup pengangguran yang bangun pagi tanpa rencana dan tentunya tak punya banyak uang untuk bersenang-senang. Meskipun Saya menganggur, raga Saya di rumah, namun Saya harus bisa tetap menghasilkan uang. Saya harus bisa mencari ​project freelance ​untuk menunjang kehidupan. Mengaku tidak pintar, tapi Alhamdulillah gelar Sarjana Saya dua dan satu Magister. Saya harus bisa mendapatkan ​penghasilan dari ilmu yang Saya pelajari. ​​​​​​Dengan banyaknya waktu yang Saya miliki Saya bisa lebih telaten mengerjakan beberapa ​project freelance berbau akademis yang selama ini Saya pikir Saya tidak bisa mengerjakannya. Dan Alhamdulillah hasilnya lebih dari ketika Saya punya pekerjaan tetap. ​​​

Selain​ project ​freelance  berbau akademis, karena gelar Sarjana Saya ada dua, Saya gunakan keahlian dan gelar sarjana Saya untuk merintis online shop dengan menggunakan platform e-comerce.  Saya bangun kembali online shop dengan menggunakan platform e-comerce yang baru. Saya memang telah mempunyai bisnis online shop, akan tetapi bisnis itu terpaksa berhenti karena deadline pekerjaan yang membuat Saya hampir tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal yang berbau pribadi. Tidak berhenti disitu saja, selain online shop yang Saya bangun sendiri, Saya pun dipercaya mengelola online shop yang sedang dirintis oleh teman Saya.

5. Tak terikat waktu 40 jam seminggu senin sampai Sabtu  membuat Saya lebih loyal pada organisasi yang selama ini hanya numpang  nama dan hanya dikenal dari nama.

​​​​​​​​Tak terikat  dengan institusi maupun instansi manapun membuat Saya lebih leluasa  dalam membawa diri. Saya tidak perlu ijin mencuri-curi waktu jam makan  siang untuk menghadiri rapat dengan mengorbankan diri tidak makan siang  karena tidak cukup waktu, atau sering ijin dari perusahaan ketika di  delegasikan oleh organisasi untuk hadir dalam kegiatan-kegiatannya.  Tidak terikat waktu membuat Saya lebih sering untuk datang menampakkan  diri dan menjadi lebih dikenal. Untuk mendapatkan peluang, PINTAR saja  tidak cukup. Memperbanyak RELASI bisa jadi dapat membuka peluang dan  kesempatan baru. Atau bahkan bisa masuk ke 'dunia' baru yang selama ini  tidak pernah Kita bayangkan dapat berada di dalamnya.

Melepaskan  apa yang sudah lama menjadi tumpuan memang tidak pernah mudah. Rasa  takut salah mengambil keputusan  selalu saja ada. Namun Saya mempunyai  prinsip apa yang telah Saya putuskan tidak akan pernah Saya sesali. Saya  meyakini bahwa setiap keputusan selalu ada hikmahnya, termasuk keputusan berhenti bekerja.  Meski orang lain menilai Saya gegabah,  hanya Saya yang benar-benar tahu apa yang terjadi di sana kan?!?

Sunday, October 30, 2016

hitsuke.blogspot.com

Nikah atau S2 (Sebelum Lanjut S2 tanyakan 3 Hal ini pada dirimu)

Beberapa hari yang lalu saya membaca beberapa ulasan tentang pendidikan Pasca Sarjana. Sebenarnya hanya iseng-iseng saja membacanya, namun ada ulasan yang menarik yang tidak berkaitan dengan tips-tips untuk mendapatkan beasiswa dan sebagainya. Ulasan tersebut sangatlah mengena. Tidak ada formula khusus untuk sukses. Seseorang bisa sukses dengan berbagai cara, tidak semata-mata harus kuliah S2, oleh karena itu bangun kesadaranmu terlebih dahullu sebelum menentukan langkah yang kamu ambil. Begitulah bunyi ulasan yang sangat menohok idealis dan ego saya, karena memang memang benar adanya.
Dalam konteks menentukan pendidikan pascasarjana terkadang kita memulai dengan menentukan universitasnya dahulu, bukan menentukan apa yang kita cari atau yang kita butuhkan. Resikonya adalah salah memilih langkah.

Konsep sederhana yang direkomendasikan oleh Simon Sinek yaitu Golden Circle Why - How - What. 
Langkah pertama untuk memulai dalam pengambilan keputusan adalah WHY, Mengapa kita membutuhkan pendidikan pascasarjana dengan jurusan X di universitas Y Pertanyaan selanjutnya adalah HOW, Bagaimana cara kita menjawab pertanyaan pertama yang merupakan pertanyaan besar sebagai penentu pertanyaan selanjutnya. Kemudian yang terakhir adalah WHAT, Apa aspirasi karier untuk lima tahun kedepan, apakah harus dengan menempuh pendidikan pascasarjana untuk mencapainya.

Saya mulai menyusun pertanyaan yang menurut saya dapat membantu dalam menemukan jawaban lebih dari sekedar jawaban iseng atau untuk mengisi waktu luang dan sebagainya. 

1. Apa aspirasi karier dalam kurun 5 tahun kedepan, apakah harus ditempuh dengan pendidikan pascasarjana untuk mencapainya?
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan kritis menurut saya, karena pertama, bisa jadi untuk mencapai aspirasi karier ternyata harus menempuh pendidikan pascasarjana. Misalnya untuk yang ingin berkarier sebagai seorang dosen sudah pasti dan diharuskan untuk menempuh pendidikan pascasarjana. Jika itu kenyataannya, tidak perlu repot-repot memikirkan universitas dan jurusan atau mempersiapkan recommendation letter. Kedua, pertanyaan ini sangat membantu untuk berpikir karier seperti apakah yang dibutuhkan dan apakah karier tersebut realistis. Alasan kedua tersebut terinspirasi dari seorang teman yang sempat berkeluh kesah perihal karier. Ia bercerita bahwa ia memilih jurusan X dikampus Y karena ingin bekerja sebagai A. Namun ternyata karier sebagai A tidak memungkinkan baginya karena dinilai tidak linnier, dan ia baru mengetahuinya setelah berkecimpung di dalamnya. Jika ia ingin meneruskan berkarir sebagai A, mau tidak mau ia harus memilih, menempuh pendidikan sarjana yang sama dengan pascasarjananya atau mengambil pascasarjana lagi yang sesuai dengan pendidikan sarjananya. Tentunya lebih baik jika hal tersebut dihindari.

2. Bila pendidikan pascasarjana merupakan langkah yang harus saya ambil, jurusan apakah yang sebaiknya saya pilih?
Jurusan di pascasarjana memang sangat spesifik, sebagai contoh jika ingin berkarier di farmasi, kita harus menentukan apakah jurusan farmakologi, farmasi klinik, bahan alam atau teknologi farmasi, jika ingin berkarier di bidang hukum, kita harus menentukan apakah akan berada pada jurusan hukum pidana, hukum perdata, hukum bisnis, hukum tata negara, hukum administrasi publik, hukum administrasi negara, hukum kesehatan, atau hukum ketenagakerjaan yang paling cocok untuk mendukung karier kita. Jawabannya akan sangat beragam dari satu orang denngan orang yang lain karena dalam bidang farmasi maupun hukum mereka pun perlu menentukan karier seperti apa yang diinginkan.

3. Universitas mana yang memiliki jurusan yang paling cocok dengan aspirasi karier kita?
Ini juga pertanyaan yang susah karena kita sering terjebak dengan reputasi universitas dan finansial. Banyak orang berbondong-bondong ingin kuliah di UGM, Undip, UNS dan lain sebagainya.

Bagi saya pribadi, pendidikan pascasarjana itu ibarat memilih satu persimpangan jalan dan menekuninya sampai ujung. Memang betul saat ini saya masih bisa bekerja di bidang di luar pendidikan pascasarjana saya, namun alangkah baiknya jika bidang yang kita pilih sejalan dengan karier kita kelak. Godaan memang besar namun ada baiknya kita tetap bijaksana dalam membuat keputusan penting untuk hidup kita, masa depan kita. So, sebelum lanjut S2 jangan lupa tanyakan 3 hal tersebut dalam diri Anda.

Friday, October 7, 2016

hitsuke.blogspot.com

Etika Seorang Wanita Bersahabat dengan Pria Beristri

Memasuki usia yang "cukup" , banyak diantara kita yang mungkin sudah tidak sendiri lagi. Sudah ada seorang Pria atau Wanita yang mendampingi kita. Namun apakah persahabatan harus terhenti ketika kita memutuskan untuk mengakhiri masa sendiri kita? Tentu saja jawabnya "Tidak".  Akan tetapi berbicara mengenai masalah persahabatan dengan lain jenis jika tidak menjaga etika dan batas-batas syariat sangat riksan berkembang menjadi "perselingkuhan". Secara naluri, setiap wanita yang sudah berumah tangga pasti akan merasakan kekecewaan dan bahkan tersakiti oleh sesuatu yang bernama perselingkuhan tersebut. Selingkuh bukan berarti suami memiliki pacar atau orang spesial diluar sepengetahuan istrinya, tetapi juga bersahabat dengan teman wanitanya tanpa ada batasan-batasan yang sesuai dengan syariatnya.

Menjalin persahabatan dengan lawan jenis memang bukanlah suatu perkara yang dilarang atau diharamkan, karena dalam pergaulan dan bersosialisasi pastinya ada interaksi antara laki-laki dan perempuan. Namun jika yang menjadi sahabat kita adalah pria yang sudah beristri, tentulah kita harus menjaga sikap dan beretika sesuai dengan aturannya.

Bagi para remaja yang masih sangat idealis dengan pemikirannya pasti akan melontarkan pertanyaan, 'bagaimana jika persahabatan itu sudah terjalin bertahun-tahun, bahkan kita sudah bersahabat sebelum dia mengenal istrinya?' Apapun alasannya, semuanya tetap akan berubah ketika sahabat pria mu itu telah mempunyai istri. Semua tidak lagi sama dan akan berbeda dari sebelumnya. 

Nah perlu pembaca Kompasiana ketahui, terutama bagi yang masih single dan masih sangat idealis yang mungkin belum tahu bagaimana perasaan seorang wanita ketika suaminya chatting-an yang menurutnya tidak penting-penting banget dan di waktu yang tidak tepat, bahwa sebenarnya tidak ada persahabatan intens lawan jenis setelah adanya sebuah pernikahan. Karena tidak pantas lagi jika kamu membutuhkan pertolongan sahabatmu setiap kali ada masalah atau sedang kesepian dengan sering menghubungi atau menelponnya, menemuinya, memintanya untuk datang membantumu. Yaah, walaupun sekedar online bareng atau telponan. Kalo ga penting-penting amat mendingan jangan deh, percayalah ada hati yang tersakiti dibelakang sikap atau chatting-anmu itu 

Dalam agama apapun pasti ada batasan-batasan  pergaulan antara laki-laki dan perempuan terutama bagi yang sudah berkeluarga demi menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga. Berikut adalah beberapa hal terkait etika yang sebaiknya dijaga ketika bersahabat dengan pria yang sudah beristri :

Berhubungan Intens di Ruang Chatting, meskipun secara fisik tidak berduaan dengan jarak yang dekat, tetapi berduaan di ruang chat baik BBM, WhatsApp, Messenger, Line dan lain sebagainya juga memiliki bahaya yang sama. Sama seperti halnya ngobrol berdua tanpa ada pihak ketiga. Sehingga hal ini sangat berbahaya, terlebih jika setiap kali chat, segera end chat agar tidak diketahui orang lain terutama pasangannya. Hal ini akan menimbulkan banyak kecurigaan dan negative thinking. Berbeda jika isi atau topik pembicaraan seputar pentingnya pekerjaan, ilmu, tugas, dan sebangsanya itu diperbolehkan . Tetapi jika hanya sekedar iseng, say hello, bersenda gurau, sekedar membalas PM (Personal Message) di sosmed atau saling balas-balasan komentar, yang pada akhirnya berujung pada kenyamanan dan ketergantungan haruslah dihindari. Jika suatu hari istrinya mengetahui hal itu, pasti akan sangat melukai hatinya dan menghilangkan kepercayaannya pada kita dan suaminya. Karena kita ataupun suaminya telah merusak kepercayaannya. Sehingga hal itu akan berdampak buruk kepada kita sendiri.

Tidak Sering Berduaan, di dalam ajaran Islam, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya saja itu dilarang dan berdosa, apalagi berduaan dengan lawan jenis yang sudah berstatus suami orang. Jangan mentang-mentang kita telah bersahabat sejak kecil dan sudah terbiasa seperti kakak-adik, sudah sangat nyaman dalam urusan ngobrol, jalan berdua, kemana-mana berdua sampai terbiasa gelendotan, INGAT, ketika sahabat pria mu sudah menikah, berarti kita sebagai sahabatnya harus sadar diri dan wajib merubah segala sikap yang dapat menimbulkan fitnah dan dosa. Sadari bahwa istrinya sudah pasti merasa tidak nyaman dengan kedekatan kalian berdua, apalagi dalam Islam pun memang dilarang melakukan khalwat dengan yang bukan mahromnya. Dan tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan dengan kedekatan yang cukupintens kecuali di dalamnya terdapat benih-benih rasa.
Berbicara dan Berbusana Sopan,bagi sebagian orang mungkin hal wajar jika berbicara lembut, manja, dan berbusana seksi. Namun tidak bagi seorang Muslimah, atau seorang wanita yang berakhlak.  Jika berbicara atau ngobrol bersama laki-laki (sahabat atau suami orang) hendaknya jangan bernada yang dapat menimbulkan daya tarik terutama juga penampilan dan gaya busana. Hal ini perlu diperhatikan. Jangan sampai semua hal itu merusak pikiran laki-laki yang sedang bersama dengan kita. Tidak ada pengecualian kepada sahabat. Siapapun itu, jika dia termasuk makhluk yang bernama laki-laki, jaga sikap dan bicara kita. Karena sikap, busana dan cara berbicara kita mencerminkan "kelas kepribadian" kita, peperti pepatah jawa mengatakan "Ajining diri dumunung aneng lathi, ajining raga ana ing busana"

Jaga Jarak, menjaga jarak seperti mengurangi intensitas kedekatan bukan berarti harus dengan sikap bermusuhan.  Yang benar adalah mengurangi frekuensi pertemuan yang tidak terlalu penting, mengurangi komunikasi, senda gurau, jalan bareng dan jangan ada lagi pertemuan yang hanya berdua saja, juga tidak ada lagi kirim-kirim pesan baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Hal ini bukan berarti bermusuhan, melainkan menghentikan total bentuk-bentuk hubungan yang bersifat intim dan pribadi. Jika ada waktu yang tepat untuk bertemu, maka ajaklah istrinya untuk ikut bergabung. Tidak ada lagi kesempatan hanya untuk kita, meskipun bersama dengan teman-temanyang lainnya. Karena saat ini sudah ada penghalang antara kita dengan sahabat pria kita.
Foto Berdua, secara etika, foto berduaan antara wanita dan pria yang sudah beristri, apalagi dengan gaya yang sangat akrab tentu saja akan menyakiti perasaan istrinya. Hal yang cukup terlihat sepele namun ini tidak mustahil dapat meretakkan keharmonisan rumah tangga sahabat pria kita.

Hormati dan Hargai Istrinya Dengan Menjaga Sikap, komitmen dalam pernikahan itu bukanlah perkara main-main. Bila sahabat pria itu masih menghubungi kita, mengajak jalan atau sekadar makan bareng berdua, itu artinya kita harus mulai membatasi hubungan persahabatan dengannya. Bagaimana pun kita harus menghormati dan menjaga perasaan istrinya. Terlebih bila istrinya sudah mengetahui persahabatan kalian. Hindari berbuat hal yang bisa membuat istrinya curiga dan berprasangka buruk melihat keakraban kita dengan suaminya. Dan jika kita  masih single,  jika sering terllihat jalat berdua dengan sahabat pria kita akan menjauhkan kita dari jodoh yang baik.

Dekatilah IstrinyaKatanya sahabat pria itu lebih mengasyikkan, lebih asyik diajak ngobrol, lebih seru diajak hang out, lebih nyaman diajak curhat dan lain sebagainya. Namun ingatlah ketika ia telah beristri, itu tandanya kitajuga harus mendekati istrinya. Mendekati istrinya disini bukan dengan maksud "menusuk" dari belakang lho, karena banyak terjadi dengan alih-alih sahabat tetapi ternyata lima tahun kemudian akhirnya mengantikan posisi istrinya (naudzubillahminzalik). Mendekati istrinya yang disini yang dimaksudkan adalah Jika ada keperluan apapun kepada sahabat priamu, maka tanyakanlah terlebih dulu pada istrinya. Misalnya, saat kita ingin bertanya sesuatu, maka tanyakanlah terlebih dahulu pada istrinya, jika istrinya tidak tahu maka ia akan bertanya pada suaminya lalu menyampaikannya pada kita,

Sahabat pembaca kompasiana, berteman baik dengan laki-laki itu tidak dilarang, yang dilarang jika pertemanan atau persahabatan itu dapat merusak hubungan baik yang dibangun susah payah oleh sahabat bersama keluarganya. Memang terkadang persahabatan yang bukan muhrim bisa disalahartikan, padahal hanya sekedar teman biasa, namun karena seringnya berkomunikasi, banyak waktu dihabiskan bersama dan cukup perhatian justru membahayakan. Oleh karenanya, sebagai wanita kita harus bisa menjaga hati agar tidak ada orang yang tersakiti karena tingkah dan perilaku kita.
Nah itulah beberapa point penting tentang etika yang menjadi batasan interaksi wanita dengan pria yang sudah beristri. Meskipun saat ini kita berada di arus pergaulan bebas yang amat deras, semoga kita semua tetap senantiasa dapat menjaga silaturahmi dengan baik dan sesuai dengan syariat Islam. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua para pembaca. Amiin

Sunday, May 29, 2016

hitsuke.blogspot.com

Surat Cinta Untuk Masa Laluku

Untukmu dimanapun sekarang berada. Aku tak tahu kenapa kamu tiba-tiba hadir dibenakku. Dan seperti biasa, kehadiranmu selalu membuatku menangis. Taukah kamu, bahwa sesungguhnya kamu adalah halaman buku paling menarik seperti halaman buku Tere Liye, Dee Lestari atau Andrea Hirata yang selalu ingin aku kunjungi, ku baca, ku resapi lalu berulang-ulang berhasil mendoktrin pikiranku. 
 
Sejenak aku tercekat, seperti apakah posisiku dihatimu sekarang dan saat itu? Sebagai kekasih kah? Sebagai Adikkah? Sebagai Kakakkah atau sebagai RIP (Rest In Peace) 
 
Apapun itu, terima kasih telah bersedia hadir dalam hidupku, mengisi dan mewarnai hariku yang sempat kelabu. Meskipun ketika bersamamu tak bisa ku pungkiri hanya air mata yang akhirnya menghiasi. Kamu bahkan tak kan pernah tau betapa kamulah yang telah menghancurkan semua prinsip dan egoku.
 
Aku mungkin aku terlalu berlebihan dengan satu kisah yang pernah kita ukir. Sudah ku coba untuk mengikhlaskan dan melupakan mu. Dengan tingkat kesibukan yang telah aku jalani selama 4 tahun ini hampir berhasil menjauhkanmu tapi tidak berhasil melupakanmu Karena, berbagai pesona yang mencoba menarik perhatianku belum ada yang bisa menandingimu. 
 
Terkadang terlintas engkau tiba-tiba datang meskipun hujan badai di luar sana hanya untuk mengusap air mataku. Tapi aku tahu itu tak mungkin. Itu hanya terjadi dalam senetron romantis. This is Realita. 
 
Terima kasih telah menjauhiku, karena, dengan begitu, aku tau ada titik dimana kita pernah merasa dekat. Sangat dekat Walau itu. Dulu....... 
 
Jika kamu (mungkin) masih sempat, peduli atau bahkan sempat membaca postingan ini (Hey, dalam tahap ini, aku bukan sedang mengiba atau berusaha membuat hati mu gerimis. Bukan itu) Kenang aku sebagai seorang.... sebut saja sebagai masa lalu. Sebut saja sebagai wanita yang pernah kau ambil hati nya penuh-penuh, namun pada akhir nya, kau kembalikan lagi separuhnya saja. Hati ku masih belum kau kembalikan penuh-penuh. Dan separuh hati ini selalu berhasil memaksaku untuk menuliskan kata-kata bodoh ini untuk mu, separuh hati ini selalu berhasil membuat ku menitikkan sedikit saja air mata, jika kamu mulai berkelebatan lagi di pikiran ku.....Sedikit saja. 
 
Jika kini, di setiap bangun dan tidurmu aku yakin bukan lagi aku yang mampir di pikiranmu (mungkin dulu pun bukan aku) sangat tidak apa-apa. Tapi, Jangan pernah salahkan aku, Jika malam-malam dan lelapku, aku masih di hampiri mimpi yang sama. Mimpi tentang kisah kita berdua, bergulir, seperti nyata walau sebenarnya itu hanya berserakan di masa lalu yang kini susah payah aku ubah. Dan disana, aku selalu bertanya-tanya "Sampai kapan, hey Kamu?" 
 
Segala yang hilang, akan diganti dengan yang lebih baik.. Dan, Kamu sudah sampai pada titik itu. Tak apa jika kerabat, sahabat dan rekan mu menjadikan ku sebagai perbandingan. Bukankah sifat kita -manusia- adalah selalu membandingkan? Tak apa jika pada akhirnya bukan aku yang akan bergabung dalam silsilah dan foto keluargamu. Bukan kah itu bagian dari takdir? Dan skenario Tuhan yang selalu kita percayai hingga kini, adalah skenario yang terbaik? 
 
Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang ingin aku lontarkan. Mengapa kita mesti bertemu jika pada akhirnya kita tidaklah satu? Orang-orang disana selalu menjawab : "karena, kita harus bertemu orang yang tidak tepat, sebelum akhirnya bertemu orang yang tepat" . Jadi, baiklah. Setidaknya bisa kusimpulkan aku bukanlah orang yang tepat. Aku adalah persinggahan sementaramumu. Aku adalah ujian. Aku adalah masa lalu. 
 
Ketika kamu dan dia sedang berbahagia merencanakan piknik keluarga, aku masih sibuk sendiri. Sibuk akan masa lalu yang belum selesai. Hey, aku tidak menyalahkanmu.. Ini bukan pilihanku tapi ini takdirku. Namun, aku berjanji tidak akan lama lagi. Karena, aku percaya.. Tuhan sudah menyediakan pula Jodoh ku. Jodoh. Bukan pengganti mu. Yang akan mendekapku lama-lama. Hingga aku lupa. Hingga aku amnesia. Luka itu apa? Dunia kita tak lagi sama, mimpi kita sudah berbeda. 
 
Sebagai apapun aku dihatimu, terima kasih sudah mau peduli. Bahagia untuk mu. Selalu. 
 
*Inspirated Song Ratusan Purnama - Melly Goeslow dan Marthino Lio Ost AADC 2